Obor Muharram: Nyala Cahaya Spiritual Manusia Sunda
- 16 Jun 2026 10:51 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung- Bagi masyarakat Sunda, malam 1 Muharram atau yang karib disebut malam satu Sura bukan sekadar pergantian kalender Islam. Momen ini merupakan ruang kontemplasi suci yang memadukan nilai teologis dengan kearifan lokal (kearifan lokal), salah satunya diekspresikan melalui tradisi pawai obor.
Berjalan beriringan membelah kegelapan malam, arak-arakan pemuda dan santri yang membawa bilah-bilah bambu menyala ini menjadi sebuah seni pertunjukan rakyat yang komunal, estetis, sekaligus syarat akan pesan simbolis yang mendalam tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia.
Secara filosofis, obor yang menyala di tengah pekatnya malam merefleksikan konsep panyorot atau penerang jalan. Masyarakat Sunda memaknai api obor sebagai simbol cahaya iman dan ilmu yang harus menuntun setiap langkah manusia memasuki tahun yang baru.
Kegelapan malam direpresentasikan sebagai ketidaktahuan, keburukan, dan rintangan hidup, sedangkan api yang berkobar vertikal ke langit melambangkan keteguhan tauhid bahwa segala harapan dan arah hidup pada akhirnya harus bermuara ke atas, yakni kepada Sang Pencipta.
Proses pembuatan obor dari bambu gombong atau tamiang juga menyimpan dimensi spiritual yang lekat dengan laku hidup agraris Sunda. Bambu yang berongga melambangkan kekosongan jiwa manusia yang harus dibersihkan terlebih dahulu dari ego dan penyakit hati.
Kain perca yang dibasahi minyak tanah di dalam rongga tersebut ibarat niat suci yang dipupuk, yang kemudian disulut menjadi api kebaikan agar keberadaan manusia mampu memberikan kemaslahatan (kemanfaatan) bagi alam semesta dan sesama mahluk hidup.
Ketika iringan pawai obor bergerak melintasi batas-batas kampung, harmoni visual yang tercipta menghidupkan kembali pilar utama masyarakat Sunda, yaitu silih asih, silih asah, suneur silih asuh.
Nyala api yang seragam meruntuhkan sekat-sekat sosial, semua melebur dalam ritme langkah yang sama sembari melantunkan selawat dan doa. Pada akhirnya, tradisi pawai obor di malam 1 Muharram adalah media refleksi budaya untuk ngaji diri (introspeksi) sekaligus ngajaga lembur (menjaga kampung halaman).
Melalui pendaran cahaya merah keemasan yang membelah malam, masyarakat Sunda diingatkan untuk meninggalkan lembaran kelam di masa lalu dan melangkah mantap menyongsong masa depan. Tradisi ini menjadi penanda bahwa sekecil apa pun cahaya kebaikan yang dimiliki seseorang, jika disatukan dalam kebersamaan, ia mampu menerangi semesta dan menghalau pekatnya zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....