Mengungkap Arti Penjor dalam Budaya Masyarakat Sunda
- 20 Mei 2026 12:02 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung- Ketika perayaan Hari Tatar Sunda digelar, lambaian penjor Sunda selalu berhasil mencuri perhatian di sepanjang jalan dan gerbang tempat acara. Tiang bambu melengkung yang dihiasi janur kuning ini tegak berdiri sebagai penanda kemeriahan sekaligus sakralnya sebuah tradisi.
Kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi atau estetika visual semata, melainkan menjadi pilar peneguh identitas budaya. Bagi masyarakat Sunda, pemandangan ini menjadi magnet yang menyatukan rasa kebersamaan dan membangkitkan kembali memori kolektif akan luhurnya warisan leluhur.
Di balik keindahannya, struktur penjor Sunda yang dalam masyarakat Sunda agraris juga kerap dikenal dengan istilah umbul-umbul janur, umbul-umbul tutwuri, atau umbul-umbul kasundaan menyimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Berbeda dengan umbul-umbul kain modern, sebutan ini merujuk pada bambu utuh berhias janur yang melengkung ke bawah. Bentuk lengkungan tersebut melambangkan kerendahan hati (handap asor) serta pengingat bahwa semakin tinggi ilmu atau derajat seseorang, ia harus semakin merunduk. Bagian ujung yang menghadap ke bawah juga merepresentasikan berkah dari langit yang dicurahkan kembali untuk kemakmuran tanah Pasundan.
Setiap elemen yang tergantung pada penjor atau umbul-umbul tradisi ini merupakan simbol konkret dari hasil bumi (pala bungkah, pala gantung, pala kesimpar) sebagai wujud rasa syukur atas kelimpahan pangan.
Hiasan berupa kelapa, padi, buah-buahan, hingga jajanan pasar yang dirangkai sedemikian rupa adalah representasi dari kemakmuran dan kesejahteraan Tatar Sunda. Tradisi ini mencerminkan penghormatan mendalam terhadap kesuburan alam, serta ucapan terima kasih yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa atas tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah.
Pada akhirnya, penjor Sunda dalam perayaan Hari Tatar Sunda bukan sekadar benda mati, melainkan media refleksi spiritual dan sosial bagi generasi masa kini. penjor menjadi pengingat bagi masyarakat modern untuk tetap merawat alam yang telah memberi mereka kehidupan sekaligus menjaga hubungan baik antar-sesama (silih asih, silih asah, silih asuh).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....