Mengenal Makna Janur Kuning dalam Kebudayaan Sunda

  • 14 Mei 2026 13:07 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung -Dalam setiap perayaan acara kebudayaan Sunda, Janur Kuning selalu hadir sebagai tanda. Janur Kuning yang tinggi melengkung bukan hanya sebagai tanda adanya suatu acara, tetapi memiliki makna dan filosofi dalam Budaya Sunda.

janur Kuning melengkung yang sering kita lihat sebagai penanda hajatan pernikahan telah lestari dari dulu hingga kini yang diwariskan secara turun-temurun, terutama di wilayah Jawa Barat. Janur kuning secara khusus telah menjadi identik dengan acara pernikahan juga acara-acara kebudayaan Sunda lainnya.

dikutip dari laman cerita sejarah kita tantang “Janur dan Penjor Sebagai Properti Hajatan”, menjelaskan bahwa Janur melambangkan sumber kehidupan, kesuburan, dan kesejahteraan. Ia juga melambangkan kejujuran dan kesucian. Struktur janur yang terdiri dari dua bagian utama mencerminkan keseimbangan dan keutuhan dalam pernikahan, mengingatkan pasangan untuk saling melengkapi dan menjaga harmoni.

Warna kuning pada janur dimaknai sebagai “sabda dadi” (harapan dan keinginan tulus akan terwujud) dan warna keputihan sebagai doa agar cinta dan kasih sayang di antara mempelai dapat selalu muda layaknya janur. Sebagai bagian dari tumbuhan, janur juga merupakan simbol bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan harus menjaga keseimbangan serta kelestariannya.

Janur yang berbentuk Kembar Mayang merupakan simbol penyatuan dua jiwa yang berbeda menjadi satu dalam ikatan pernikahan, serta doa agar rumah tangga yang dibangun harmonis, bahagia, dan penuh berkah. Dalam tradisi Jawa, kembar mayang juga memiliki filosofi bahwa “raja sehari” (pengantin) harus mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah SWT, yang digambarkan melalui janur kuning.

Janur dalam Bentuk Umbul-umbul atau Penjor di daerah Jawa dan Sunda berfungsi sebagai penanda lokasi hajatan, melambangkan keramahan dan penghormatan kepada para tamu undangan. Sedangkan Gapura Janur melambangkan gerbang menuju kehidupan baru bagi pasangan pengantin dan memperkuat nuansa sakral dalam prosesi pernikahan, menandakan momen yang penuh berkah dan restu.

Makna filosofis yang mendalam yang diberikan pada janur, terutama reinterpretasi “janur kuning” sebagai “sejatining nur” (cahaya sejati/ilahi) dan “janah nur wening” (surga, cahaya, suci) yang diresapi konsep-konsep Islam, menunjukkan proses asimilasi budaya yang mendalam. Ini bukan sekadar adopsi superfisial, melainkan pembingkaian ulang semantik dan simbolis yang mendalam untuk menyelaraskan dengan paradigma agama yang dominan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....