Makna Beubeutian dalam Upacara Tradisional Budaya Sunda

  • 13 Mei 2026 15:53 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Dalam Kebudayaan Sunda, banyak ritual upacara adat tradisi Sunda yang dilakukan oleh masyarakatnya. Setiap upacara adat tradisi Sunda banyak menggunakan peralatan hingga berbagai makanan yang menjadi simbol-simbol dalam kehidupan, salah satunya adalah Beubeutian.

Masyarakat Sunda mengenal berbagai upacara adat yang masih dilakukan hingga saat ini, diantaranya Ngaras Siraman, Ngeuyeuk Seureuh, Ngalaksa, Tingkeban, dan lain-lain. Semua upacara adat yang dilaksanakan tidak lepas dari adanya berbagai peralatan yang digunakan, dan sering kita lihat adanya Beubeutian.

Beubeutian dalam bahasa Sunda berarti umbi-umbian, merujuk pada segala jenis tanaman pangan yang tumbuh di dalam tanah (umbi akar atau batang). Istilah ini sering merujuk pada hasil bumi yang diolah dengan cara direbus atau dikukus, seperti singkong, ubi, talas, kacang tanah, dan ganyol.

Beubeutian adalah makanan yang buahnya tumbuh didalam tanah, diantaranya Ubi, Singkong, Talas, Kentang, dan lain-lain sejenisnya. Seluruh jenis buah ini dimasak dengan cara direbus atau dikukus, setelah matang disimpan didalam tempat yang terbuat dari anyaman bambu.

Dikutip dari laman Majulah IJABI, Beubeutian dalam tradisi Sunda adalah jenis makanan yang berasal dari dalam tanah, seperti umbi-umbian (singkong, talas, ganyol), yang diolah dengan cara direbus atau dikukus. Secara adat, beubeutian melambangkan kesederhanaan, rasa syukur kepada alam, serta sering disajikan dalam ritual penting seperti tahlilan 40 hari wafat atau upacara tingkeban (tujuh bulanan).

Beubeutian sering dikaitkan dengan pola hidup sederhana, merakyat, dan tidak berlebihan, yang merupakan nilai luhur dalam budaya Sunda. Sebagai makanan yang tumbuh di dalam tanah (beubeutian berasal dari kata 'beubeut' atau tanah), makanan ini melambangkan penghormatan terhadap hasil bumi dan ketergantungan manusia pada alam.

Dalam upacara Tingkeban (tujuh bulanan kehamilan), wajib menyajikan tujuh macam beubeutian rebus sebagai simbol harapan agar bayi yang dilahirkan memiliki sifat membumi dan rezeki yang cukup. Beubeutian sering kali menjadi bagian dari festival kebudayaan yang memperkuat identitas kuliner tradisional Sunda dan mendukung ekonomi kreatif di pedesaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....