Mengenal Karakter dan Filosofi Watak Tokoh Wayang Semar

  • 28 Feb 2026 16:08 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Semar adalah salah satu tokoh yang ada dalam Wayang Golek, kesenian Sunda yang masih banyak peminatnya hingga saat ini. Semar dalam wayang golek adalah tokoh Punakawan yang berwatak bijaksana, rendah hati, jujur, sabar, dan tulus.

Dikutip dari laman osc.medcom.id tentang “Karakter dan Filosofi Sifat Semar”, tokoh Semar yang merupakan pemimpin dari punakawan yang berjiwa adil meskipun buruk rupa. Tokoh Semar dikisahkan sebagai penasihat sekaligus pengasuh para ksatria berbudi luhur, yaitu Pandawa bersaudara.

Sifatnya yang sederhana, jujur, tulus, bijaksana cerdas, dan berpengetahuan luas membuat dirinya disegani dan dihormati oleh para ksatria. Dalam buku “Psikologi Raos dalam Wayangkarya Suwardi Endraswara mengatakan bahwa tokoh Semar memberikan dimensi baru dan mendalam kepada etika wayang.

Semar sering disebut sebagai seorang begawan, namun dirinya lebih memilih menjadi simbol rakyat jelata, maka dari itu, semar dijuluki sebagai manusia setengah dewa. Namun bagi Semar, seorang pemimpin adalah seorang majikan sekaligus pelayan, jadi walaupun dia manusia setengah dewa, dia tetap pelayan atau pembantu para ksatria.

Maka dari itu, Semar digambarkan sebagai penguasa kayangan tapi juga abdi dari Pandawa bersaudara.Dari sisi spiritualnya, Semar memiliki mental matang, terlihat dari wataknya yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak pernah terlalu sedih tetapi juga tidak pernah terlalu gembira.

Dia memiliki sifat yang tidak kagetan dan gumunan, sifatnya seperti air tenang namun menghanyutkan, namun dibalik sifat tenangnya tersebut, terdapat kejeniusan, ketajaman batin, kekayaan pengalaman hidup, dan ilmu pengetahuan. Sosoknya digambarkan berwatak rembulan dengan wajah pucatnya yang mengekspresikan bahwa dia tidak pernah mengumbar nafsu.

Batinnya selalu awas, sedangkan panca inderanya ditidurkan dari gejolak nafsu negatif. Yang paling penting adalah, Semar selalu meminta restu dari Tuhan. Dalam kisah pewayangan, Semar digambarkan dengan serba kesamaran dan ambigu, namanya yang diambil dari kata sengsem dan samar, yang artinya mencintai sesuatu yang samar atau gaib.

Rekomendasi Berita