Jamasan Pusaka, Tradisi Leluhur yang Tetap Hidup di Era Modern
- 27 Feb 2026 13:38 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Di tengah dinamika kehidupan anak muda Bandung yang lekat dengan budaya populer, tradisi jamasan pusaka tetap bertahan sebagai praktik budaya yang sarat makna historis dan spiritual. Ritual ini tidak sekadar membersihkan keris, golok, atau tombak, melainkan juga menjadi medium pelestarian nilai leluhur dan identitas budaya lintas generasi.
Mengutip informasi dari Komunitas Aleut, jamasan merupakan ritual pembersihan benda pusaka yang diyakini memiliki nilai sejarah sekaligus simbolik.
Prosesnya dilakukan dengan air bunga, doa, serta perlakuan penuh kehati-hatian sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan para pendahulu.
Tradisi ini, menurut masyarakat setempat, tidak hanya bertujuan merawat kondisi fisik pusaka agar tetap terjaga, tetapi juga dimaknai sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan serta menjaga keselarasan hidup.
Di Kampung Mahmud, ritual jamasan umumnya dilaksanakan setiap 12 Maulud, bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada momentum tersebut, warga berkumpul membawa pusaka keluarga untuk dibersihkan bersama dalam suasana khidmat yang diiringi doa.
Sementara itu, di sejumlah wilayah lain di Jawa Barat, jamasan kerap dilakukan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa yang dipandang sebagai periode sakral untuk ritual penyucian.
Menariknya, praktik ini tidak hanya diikuti generasi tua. Sejumlah kalangan muda mulai terlibat, baik sebagai pengamat, pendokumentasi, maupun peserta kegiatan budaya.
Keterlibatan tersebut membuka ruang pemahaman bahwa pusaka bukan semata benda mistis, melainkan simbol perjalanan sejarah dan identitas komunitas.
Di tengah arus modernitas yang serba cepat, jamasan pusaka menjadi ruang refleksi kolektif. Tradisi ini mengajak masyarakat berhenti sejenak, merawat warisan masa lalu, dan meneguhkan hubungan dengan akar budaya sebelum melangkah ke masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....