Kapai-Kapai Bangkit, Pertunjukan yang Mengguncang Tafsir dan Kesadaran

  • 12 Feb 2026 14:33 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Ratusan pelajar antusias dan terpukau menyaksikan pertunjukan kontemporer, yang digelar Neo Theater dan ISBI Bandung. Dari GK Sunan Ambu ISBI Bandung, sutradara Fathul A. Husein melahirkan kembali Kapai-Kapai dalam wajah baru: "Dekonstruksi Minimalis Kapai-Kapai" sebuah pertunjukan teater kontemporer yang mengguncang batas antara teks, tubuh, dan tafsir.

Dari ruang hampa itu, lampu-lampu panggung meredup, sunyi menggantung di udara. Di atas panggung yang nyaris telanjang, seorang lelaki berdiri memanggul tubuhnya sendiri, seolah memanggul dunia.

Berangkat dari lakon legendaris karya Arifin C. Noer (1941–1995), Fathul tidak sekadar mementaskan ulang, melainkan membongkar dan mentransformasikan teks dramatik menjadi peristiwa panggung yang sarat simbol dan ledakan imaji. Lakon yang ditulis pada 1970 itu kembali berdenyut, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai jeritan zaman yang belum usai.

Kisahnya tetap tentang Abu (lelaki) terpinggirkan yang hidup dalam kemiskinan material dan moral. Sejak kecil, ia dicekoki dongeng Emak tentang Cermin Tipu Daya, cermin ajaib yang menyelamatkan pangeran dan putri dari segala malapetaka. Cermin itu, kata Emak, berada di Ujung Dunia.

Abu tumbuh dalam kerasnya kehidupan buruh, mengais remah di tengah modernitas yang tak ramah. Namun di dalam dirinya, fantasi tentang Cermin Tipu Daya tak pernah padam. Ia percaya, kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan bila ia sampai di Ujung Dunia.

Bersama istrinya, Iyem, Abu menempuh perjalanan panjang, perjalanan fisik yang sesungguhnya adalah perjalanan spiritual, menuju batas paling akhir (kematian). Dan konon, Cermin Tipu Daya itu justru ditemukan saat ajal menjemput.

Fathul menegaskan bahwa lakon ini adalah surealisme tentang harapan dan ilusi manusia. “Lakon dengan beberapa bagian penting dan verbalitas tekstual di dalamnya semata dipinjam untuk menjadi lebih sebagai ‘peristiwa’ pertunjukan daripada sekadar dominasi narasi verbal,” ujar Fathul, Rabu 11 Februari 2026.

Tema tentang nasib kaum marginal, korban tak terelakkan dari industrialisasi dan cengkeraman kapitalisme, dihidupkan kembali dalam tafsir yang lebih getir dan reflektif. Di tangan Fathul, dialog tidak lagi menjadi pusat. Tubuh para aktor berbicara lewat gestur, gerak, dan simbol-simbol yang mengguncang kesadaran.

Sosok Emak, yang diperankan dengan penuh penghayatan oleh Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati, menjelma sebagai ruh yang menghidupkan seluruh denyut cerita. Dari gestur yang tenang hingga intonasi yang sarat makna, Emak hadir bukan sekadar tokoh, melainkan penyangga rasa dan menguatkan narasi sekaligus memperjelas maksud yang ingin disampaikan kepada penonton.

Sementara itu, tokoh Abu yang diperankan Muhammad Nur Rozaq tampil memikat dengan permainan emosi yang jujur dan terukur. Kehadirannya memberi keseimbangan dramatik, menghadirkan energi yang mengalir alami, sehingga jalinan kisah terasa semakin utuh dan menyentuh.

Peran utama lainnya dipercayakan kepada Hendra Permana, yang tampil sebagai poros dramatik sekaligus penegas alur cerita yang terjalin apik. Dengan penghayatan yang matang dan artikulasi emosi yang terukur, juga memberi ritme yang kokoh pada pementasan, menuntun penonton menyusuri alur dengan rasa yang utuh dan kesan yang mendalam.

Minimalisme bukan berarti miskin ekspresi; justru dalam kesederhanaan itulah makna dipadatkan. Musik hadir lirih, tembang-tembang tradisional yang mengiris sunyi, menandai kelamnya kehidupan dan terhapusnya jati diri manusia.

Tak berhenti di sana, Fathul “meminjam” idiom-idiom seni tradisional sebagai fondasi estetika. Tarling hadir lewat perpaduan drama, musik, dan lagu. Sintren menyusup dengan unsur tari dan mitos bidadari yang magis. Sementara wayang kulit dengan bayang-bayang epik Ramayana dan Mahabharata, menjadi metafora tentang manusia sebagai figur kecil dalam layar besar takdir.

Fathul ingin menyampaikan, bahwa Dekonstruksi Minimalis Kapai-Kapai bukan sekadar pertunjukan teater, ini adalah gugatan, tentang kemiskinan yang diwariskan sistem, tentang modernitas yang memakan anak-anaknya, tentang manusia yang terus berjalan menuju Ujung Dunia, sambil memeluk harapan yang mungkin tak pernah nyata.

"Di panggung yang minimalis itu, Abu tidak sendiri. Ia adalah kita," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....