LPA Jabar Dorong Orang Tua Perkuat Komunikasi dengan Anak
- 06 Sep 2026 14:24 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat mendorong orang tua memperkuat komunikasi terbuka dengan anak, terutama ketika mereka mulai aktif bertanya dan mengenal berbagai informasi dari lingkungan maupun teknologi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan anak mendapatkan informasi yang sesuai dengan usia dan perkembangannya.
Manajer Program LPA Jawa Barat, Dianawati, S.Pd., M.Pd., dalam program siaran Halo RRI, Pro 1 RRI Bandung edisi Jumat 4 September 2026 mengatakan anak usia sekolah dasar, termasuk kelas tiga SD, umumnya mulai banyak bertanya mengenai berbagai hal yang mereka temui. Kondisi tersebut perlu disikapi orang tua dengan menjadi pendengar yang baik sebelum memberikan jawaban atau mengambil keputusan untuk anak.
Menurut Dianawati, orang tua sebaiknya tidak langsung menyetujui setiap permintaan anak, tetapi mengajak mereka berdiskusi mengenai alasan dan kebutuhan di balik permintaan tersebut. Jika anak menginginkan sesuatu yang dinilai tidak biasa, orang tua dapat menggali dari mana informasi tersebut diperoleh dan apa yang dipahami anak.
"Biarkan kita tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anak-anak kita, jadi memang saat ini harus membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak kita," ujar Dianawati. Dengan komunikasi terbuka, orang tua dapat lebih mudah mengetahui apa yang didengar, dilihat, maupun dipikirkan anak.
Selain membangun komunikasi, orang tua juga perlu memberikan edukasi mengenai risiko dan dampak dari perilaku maupun informasi yang diterima anak. Dianawati menilai edukasi tersebut masih jarang dilakukan secara optimal, padahal anak perlu memahami konsekuensi dari apa yang mereka lihat dan lakukan.
Dianawati juga mengingatkan orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan gawai, terutama media sosial dan permainan daring yang diakses anak. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak mungkin sepenuhnya dibendung sehingga pendampingan menjadi bagian penting dalam perlindungan anak.
Ia menyebut anak usia kelas tiga SD saat ini sudah banyak yang mulai menggunakan atau dipinjami gawai oleh orang tua. Karena itu, orang tua tidak boleh sekadar membiarkan anak bermain sendiri dengan gawai, tetapi perlu mengetahui aktivitas dan konten yang diakses.
"Jangan sistemnya CBSA "Cul Budak Sina Anteng" tetapi justru harus betul-betul anak kita diawasi saat ini," katanya. Pengawasan diperlukan agar penggunaan teknologi tidak justru membuka akses anak terhadap informasi yang belum sesuai dengan usia mereka.
Dianawati mengutip data UNICEF yang menunjukkan tingginya keterhubungan anak dengan internet, bahkan disebut setiap 0,5 detik terdapat anak yang terhubung dengan internet. Ia juga menyebut sekitar 51,19 persen keterhubungan tersebut berada pada kelompok anak usia enam tahun ke bawah.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan perlindungan anak di era digital semakin besar dan membutuhkan keterlibatan aktif orang tua. Ayah dan bunda juga perlu terus mempelajari perkembangan anak agar pola komunikasi, edukasi, serta pengawasan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Jika orang tua mengalami kesulitan dalam mendidik maupun menerapkan pola asuh di tengah perkembangan teknologi, Dianawati mengimbau agar tidak ragu mencari bantuan dan berkonsultasi. Konsultasi dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu orang tua memahami perkembangan anak sekaligus menentukan pola pengasuhan yang lebih tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....