Shelter Air Bersih, ITB Rumah Amal Peduli NTT

  • 31 Agt 2026 18:45 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung -Ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dampaknya tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga mengganggu rasa aman masyarakat. Sejumlah bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan parah, sementara fasilitas umum seperti rumah sakit dan masjid turut terdampak. Di tengah gempa susulan yang masih terjadi, banyak warga memilih bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir kembali menempati rumah mereka.

Merespons kondisi tersebut, Institut Teknologi Bandung melalui ITB Peduli bersama Rumah Amal Salman bergerak menuju wilayah terdampak untuk mendampingi masyarakat dalam masa tanggap darurat. Kehadiran tim tidak hanya membawa bantuan kemanusiaan, tetapi juga menghadirkan solusi yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan, yakni penyediaan shelter berupa tenda keluarga dan tenda komunal tipe A sebagai tempat berlindung sementara serta akses air bersih bagi warga di pengungsian.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di ruang akademik, tetapi turut menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksi yang berbasis keilmuan dan kebutuhan di lapangan. Melalui ITB Peduli, berbagai sumber daya kampus mulai dari tenaga ahli, alumni, relawan hingga pengetahuan yang dimiliki dikerahkan untuk membantu warga terdampak bencana.

Tim ITB Peduli berangkat menuju wilayah terdampak pada pertengahan Agustus 2026 dengan tujuan Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Wilayah tersebut dipilih berdasarkan data BMKG yang menunjukkan Reok sebagai salah satu daerah yang mengalami dampak cukup berat akibat gempa.

Setibanya di lokasi, tim melakukan observasi untuk melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Asesmen tidak hanya dilakukan pada tempat tinggal warga, tetapi juga fasilitas kesehatan. Hasil pemetaan kebutuhan tersebut menjadi dasar bagi tim dalam menentukan bentuk bantuan yang akan diberikan. Salah satu fokusnya adalah menyediakan tempat berlindung sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan dan masih khawatir akan gempa susulan.

Pembangunan tenda dilakukan secara bertahap bersama masyarakat. Sebanyak 15 unit tenda telah berdiri dan tersebar di Reok, Ronting, dan Pota. Pembangunan shelter juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung. Beberapa warga mendapatkan pelatihan pembuatan tenda agar selanjutnya dapat membangun tenda secara mandiri. Pelatihan tersebut terus dilakukan seiring pembangunan tenda keluarga dan shelter di beberapa titik.

Shelter yang dibangun ITB Peduli dirancang dengan mempertimbangkan kondisi pascabencana dan kebutuhan keluarga yang akan menggunakannya. Dosen Program Studi Arsitektur ITB, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T., merancang shelter dengan struktur kerangka bambu berbentuk A-frame. Desain ini menggunakan material yang relatif mudah ditemukan dan dapat dibangun dengan teknologi sederhana.

“Konsep dasarnya dapat dirumuskan sebagai shelter yang mudah, cepat, murah, tetapi tetap memberikan volume ruang yang maksimal. Struktur A-frame dipilih karena secara struktural efisien dan sederhana untuk dibangun, terutama dalam kondisi pascabencana ketika keterbatasan material, tenaga kerja, dan peralatan menjadi pertimbangan utama,” ujar Andry kepada RRI, Senin 30 Agustus 2026.

Struktur dasar shelter tersebut dapat dibangun menggunakan sedikitnya 12 batang bambu. Bambu ditempatkan pada atau mendekati batas selubung bangunan sehingga tidak banyak mengambil ruang di dalam shelter. Dengan demikian, ruang yang tersedia tetap dapat digunakan keluarga untuk beristirahat maupun melakukan aktivitas sehari-hari.

Pembangunan shelter juga tidak hanya dilakukan oleh relawan. Masyarakat setempat turut dilibatkan dan mendapatkan pendampingan untuk memahami pola konstruksi hingga dapat merakit tenda secara mandiri. Dalam kondisi dengan peralatan terbatas, bambu dapat dikerjakan menggunakan alat sederhana seperti golok atau gergaji, sementara sambungannya dapat menggunakan mur dan baut maupun tali.

“Bambu bukan hanya dipilih karena murah atau tersedia secara lokal, tetapi karena karakter material dan sistem A-frame memungkinkan tercapainya tiga tujuan utama shelter pascabencana, yaitu mudah dibangun, cepat dibangun, dan murah, sekaligus menghasilkan ruang dalam yang relatif besar dan nyaman untuk keluarga,” jelas Andry. Pertimbangan terhadap kondisi iklim dan kesehatan juga menjadi bagian dari rancangan shelter. Bentuk atap yang tinggi memungkinkan udara panas bergerak ke bagian atas, sementara bukaan pada sisi shelter membantu sirkulasi udara. Penambahan jendela dengan kasa nyamuk juga dilakukan pada tenda keluarga untuk mendukung kenyamanan penghuninya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....