Mengapa Komentar di Media Sosial Bisa Begitu Pedas?

  • 10 Agt 2026 10:47 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Media sosial membuat siapa pun dapat menyampaikan pendapat dalam hitungan detik. Namun, ruang digital juga memperlihatkan komentar tajam yang kerap ditujukan kepada orang lain.

Fenomena tersebut dibahas dalam Podcast Raditya Dika pada tanggal 26 Juli 2026 yang menghadirkan psikiater dan penulis Dr. Andreas Kurniawan. Ia menjelaskan sejumlah kemungkinan yang membuat seseorang mudah melontarkan komentar negatif di media sosial.

Menurut Andreas, perilaku toxic sebenarnya sudah ada jauh sebelum media sosial berkembang seperti sekarang. Perbedaannya, teknologi membuat perilaku tersebut lebih mudah terlihat dan disebarluaskan.

“Orang toxic dari dulu ada, cuma media untuk menyampaikannya enggak ada. Sekarang lebih kelihatan,” ujar Andreas dalam podcast tersebut.

Ia kemudian menjelaskan fenomena proyeksi sebagai salah satu kemungkinan penyebab. Seseorang dapat memproyeksikan ketidakpuasan terhadap kehidupannya kepada orang lain yang dianggap memiliki kehidupan lebih baik.

Misalnya, seseorang yang merasa tidak bahagia dapat melihat orang lain sedang menikmati hubungan atau perjalanan. Perasaan tersebut kemudian membuatnya beranggapan bahwa kebahagiaan orang lain sebenarnya tidak seperti yang terlihat.

Menurut Andreas, kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang menyadari bahwa setiap individu memiliki pikiran dan pengalaman berbeda. Ketika kesadaran itu kurang, seseorang dapat menganggap pandangannya harus diterima orang lain.

“Karena gua mikir seperti ini, semua orang pasti mikir seperti ini,” katanya.

Persoalan dapat semakin rumit ketika komentar negatif mendapatkan dukungan dari pengguna lain. Tanda suka atau dukungan tersebut dapat membuat seseorang merasa pandangannya semakin benar.

Andreas menyebut dukungan tersebut dapat memberikan sensasi menyenangkan bagi orang yang menerima validasi. Kondisi itu berpotensi membuat perilaku serupa kembali dilakukan ketika seseorang mendapatkan perhatian dari lingkungan digital.

Karena itu, komentar pedas di media sosial tidak selalu dapat dipahami hanya dari isi komentarnya. Latar belakang, pengalaman, serta cara seseorang memandang dirinya dan orang lain juga dapat menjadi bagian dari persoalan.

Andreas juga menyoroti pentingnya keberadaan teman sebagai ruang untuk membicarakan emosi. Menurutnya, seseorang yang memiliki tempat aman untuk bercerita tidak harus menjadikan media sosial sebagai tempat meluapkan semua perasaannya.

Ruang percakapan yang aman memungkinkan seseorang memproses perasaan sebelum merespons sesuatu. Dengan begitu, media sosial tidak menjadi satu-satunya tempat untuk mencari pelampiasan atau pengakuan.

Pada akhirnya, fenomena komentar pedas di media sosial menunjukkan bahwa perilaku digital tidak selalu berdiri sendiri. Cara seseorang memandang kehidupan, mengelola emosi, dan mencari validasi dapat memengaruhi cara berinteraksi di ruang digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....