Dari Jerami Menjadi Kompos, Inovasi Mahasiswa Unpad di Desa Ciuyah

  • 05 Agt 2026 19:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Sumedang – Bagi sebagian petani, jerami sisa panen sering kali dianggap sebagai limbah yang tidak lagi memiliki nilai guna. Padahal, bahan organik tersebut dapat diolah kembali menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan lingkungan.

Pemanfaatan limbah pertanian menjadi pupuk organik menjadi salah satu upaya yang dilakukan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran melalui program Faperta Social Village (FSV) bersama masyarakat Desa Ciuyah, Kabupaten Sumedang.

Sebagai desa yang didominasi lahan pertanian, Desa Ciuyah menghasilkan limbah jerami dalam jumlah besar setiap musim panen. Selama ini, jerami kerap dibakar atau dibiarkan menumpuk di area persawahan.

Kondisi tersebut tidak hanya membuat limbah terbuang percuma, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas tanah dan lingkungan sekitar. Karena itu, pengolahan limbah pertanian menjadi pupuk kompos dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan.

Melalui program tersebut, mahasiswa dan warga setempat mengolah 100 kilogram jerami serta 30 kilogram kotoran kambing lokal menjadi bahan kompos. Proses tersebut dilakukan secara langsung agar masyarakat dapat memahami teknik pengolahan bahan organik secara mandiri.

Wakil Ketua Tim FSV Unpad, Rakha, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman praktis kepada masyarakat dalam memanfaatkan limbah pertanian.

"Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada penyampaian teori. Bersama masyarakat Desa Ciuyah, kami mempraktikkan langsung pengolahan jerami dan kotoran kambing menjadi bahan kompos," ujar Rakha.

Menurutnya, limbah yang selama ini belum dimanfaatkan sebenarnya dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang berguna bagi pertanian. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Untuk memperkenalkan hasil akhirnya, tim mahasiswa turut membawa contoh kompos berbahan jerami yang telah matang. Kehadiran sampel tersebut memicu diskusi antara petani dan mahasiswa mengenai teknik pengomposan yang dapat diterapkan secara mandiri.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Ciuyah, Ruhanta, menyambut baik pendampingan yang diberikan. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat membantu petani mengelola limbah pertanian dengan lebih baik.

"Selama ini kami memang masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan limbah pertanian. Dengan adanya kegiatan ini, petani mendapat pengetahuan dan pengalaman langsung," kata Ruhanta.

Program Faperta Social Village merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad. Melalui pemanfaatan potensi lokal, program tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....