Stoikisme Ajarkan Fokus pada Diri, Bukan Mengendalikan Pasangan

  • 30 Jul 2026 10:58 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Banyak orang ingin memiliki hubungan yang berjalan sesuai harapan. Namun, dalam stoikisme, kebahagiaan justru dimulai ketika seseorang memahami batas antara apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan.

Salah satu pembahasan menarik mengenai hal tersebut disampaikan Henry Manampiring dalam podcast bersama Raditya Dika. Penulis buku Filosofi Teras itu menjelaskan bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun dengan mengendalikan pasangan, melainkan memperbaiki diri sendiri.

Menurut Henry, seseorang hanya memiliki kendali atas pikiran, sikap, dan tindakannya sendiri. Sementara itu, keputusan maupun perilaku pasangan berada di luar kendali siapa pun.

"Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita menjadi pasangan yang baik. Kita tidak bisa mengendalikan apakah pasangan akan tetap setia atau tidak." ujar Henry

Ia menjelaskan, banyak orang justru mengalami kecemasan karena menghabiskan tenaga untuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kendalinya. Padahal, usaha terbaik yang dapat dilakukan adalah menunjukkan sikap yang baik, jujur, dan bertanggung jawab dalam hubungan.

Prinsip tersebut dikenal sebagai dikotomi kendali, salah satu konsep utama dalam stoikisme. Konsep ini mengajarkan agar seseorang mampu membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dengan hal yang sepenuhnya berada di luar kuasanya.

Dengan cara pandang tersebut, seseorang tidak berhenti berusaha menjaga hubungan. Sebaliknya, usaha tetap dilakukan secara maksimal tanpa menggantungkan ketenangan hidup pada keputusan orang lain.

Henry juga menepis anggapan bahwa stoikisme membuat seseorang menjadi pasif atau tidak peduli. Menurutnya, stoikisme justru mengajarkan tanggung jawab penuh terhadap tindakan yang berada dalam kendali, sekaligus menerima bahwa hasil akhirnya belum tentu sesuai harapan.

Pandangan serupa juga dapat diterapkan ketika menghadapi komentar negatif di media sosial maupun penilaian orang lain. Alih-alih menghabiskan energi untuk mengubah pendapat orang, seseorang lebih baik memperbaiki sikap dan respons yang dimilikinya.

Dalam podcast tersebut, Henry mengungkapkan ketertarikannya terhadap stoikisme berawal dari pengalaman menghadapi depresi klinis. Setelah mempelajari filsafat tersebut, ia merasakan perubahan cara pandang terhadap berbagai persoalan hidup, termasuk dalam menghadapi hubungan dengan orang lain.

Pada akhirnya, stoikisme tidak mengajarkan seseorang untuk berhenti mencintai atau berhenti berharap. Filosofi ini mengingatkan bahwa ketenangan lebih mudah dicapai ketika seseorang berfokus menjadi pribadi yang lebih baik, tanpa memaksakan kendali atas pilihan hidup orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....