Hari Pelaut Sedunia, Kereta Bagian Konektivitas Sekitar Pelabuhan
- 26 Jun 2026 10:11 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memaknai Hari Pelaut Sedunia yang diperingati setiap 25 Juni ini sebagai momentum untuk melihat kembali hubungan antara laut dan darat. Yaitu dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Peringatan yang dicetuskan Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization. Itu sejak 2010 ini menjadi bentuk apresiasi kepada para pelaut yang menjaga arus perdagangan, perjalanan, dan kebutuhan masyarakat melalui jalur laut.
Bagi Indonesia, laut dan darat merupakan dua ruang perjalanan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagai negara kepulauan dengan 17.380 pulau, perpindahan orang dan barang membutuhkan transportasi yang saling tersambung. Pelabuhan menjadi pintu perjalanan antarpulau, sementara kereta api hadir di sisi darat untuk melayani mobilitas menuju kota, kawasan wisata, pusat produksi, kawasan industri, dan permukiman.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Hari Pelaut Sedunia mengingatkan bahwa konektivitas Indonesia dibangun oleh banyak peran. Di laut ada para pelaut, pekerja kapal, dan Insan pelabuhan. Di darat, ada jalan, terminal, stasiun, serta layanan kereta api yang membantu perjalanan masyarakat dan distribusi barang.
“Di negara kepulauan, perjalanan sering kali bersambung dari laut ke darat, atau dari darat ke laut. Kereta api hadir pada bagian darat dari perjalanan itu. Perannya dekat dengan masyarakat, karena membantu pelanggan menjangkau kota, kawasan ekonomi, wisata, dan simpul transportasi lain,” ujar Anne kepada media, Kamis 25 Juni 2026.
Keberadaan kereta api di sekitar kawasan pelabuhan dapat dilihat di sejumlah wilayah. Di Banten, Stasiun Merak menjadi salah satu titik perjalanan yang dekat dengan aktivitas penyeberangan Jawa–Sumatra. Melalui layanan Commuter Line Merak relasi Rangkasbitung–Merak, masyarakat dapat mengakses kawasan Merak sebelum melanjutkan perjalanan melalui kapal penyeberangan.
KAI mencatat, volume pengguna pada lintas Rangkasbitung menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Pada 2022 tercatat 43.317.716 pelanggan, meningkat menjadi 62.085.471 pelanggan pada 2023, kemudian 69.999.362 pelanggan pada 2024, dan kembali naik menjadi 77.552.716 pelanggan pada 2025. Sementara itu, pada Januari–Mei 2026, Commuter Line Rangkasbitung–Merak melayani 1.978.799 pelanggan.
“Di Merak, masyarakat dapat melihat bagaimana perjalanan kereta api bertemu dengan layanan penyeberangan. Pelanggan bisa datang dari wilayah darat, turun di sekitar kawasan Merak, lalu melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya,” kata Anne.
Di ujung timur Pulau Jawa, Stasiun Ketapang di Banyuwangi juga menjadi contoh kedekatan antara layanan kereta api dan kawasan pelabuhan. Stasiun ini berada dekat dengan Pelabuhan Ketapang yang melayani penyeberangan menuju Bali. Sepanjang Januari–Mei 2026, Stasiun Ketapang melayani 320.232 pelanggan naik-turun.
Kedekatan Stasiun Ketapang dan Pelabuhan Ketapang membuat perjalanan antarpulau menjadi lebih mudah direncanakan. Pelanggan dapat menggunakan kereta api sampai Banyuwangi, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bali melalui layanan penyeberangan.
Di Jakarta, kawasan Tanjung Priok menjadi ruang pertemuan antara rel, pelabuhan, permukiman, dan aktivitas ekonomi masyarakat Jakarta Utara. Layanan Commuter Line lintas Tanjung Priok–Jakarta Kota menjadi bagian dari mobilitas warga di wilayah tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....