Dua Titik Longsor Lembang Picu Ancaman Banjir
- 12 Feb 2026 10:16 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung Barat – Bencana gerakan tanah melanda dua lokasi di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu 24 Januri 2026 sekitar pukul 04.00 WIB. Peristiwa terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan berintensitas tinggi selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan lapangan tanggap darurat, longsor terjadi di Kampung Sukadami RT 02 RW 07 (koordinat 107,600395° BT dan -6,796387° LS) serta di Kampung Cipariuk–Cihaseum RT 02 RW 12 (107,601807° BT dan -6,791347° LS). Aparat desa mencatat, gerakan tanah di kawasan tersebut sebelumnya telah terjadi sebanyak tiga kali.
Di Kampung Sukadami, longsor bertipe translasi terjadi akibat gelinciran pada batas antara tanah pelapukan dan batuan vulkanik yang lebih keras. Material bergerak ke arah barat (N 259° E) dengan lebar gawir 22 meter, tinggi 15 meter, dan panjang landaan 28 meter.
Sementara di Kampung Cipariuk–Cihaseum, dua titik longsor translasi teridentifikasi dengan dimensi lebih besar. Pergerakan tanah mengarah ke timur-tenggara (N 100° E) dengan lebar mencapai 42 meter, tinggi 37 meter, dan panjang landaan 63,8 meter. Longsoran di lokasi ini berpotensi menutup aliran Sungai Cihaseum dan memicu terbentuknya bendungan alami (natural dam) yang berisiko menimbulkan aliran bahan rombakan atau banjir bandang.
Selain dua titik utama, tim menemukan sedikitnya 26 titik longsoran kecil hingga besar di lereng-lereng curam sekitar lokasi. Retakan tanah sepanjang 2–5 meter dari bibir longsoran juga terpantau, menandakan potensi longsor susulan masih tinggi.
Data dari pemerintah desa menyebutkan, dua warga meninggal dunia akibat kejadian di Kampung Sukadami. Selain itu, dua rumah warga terdampak langsung dan total 30 kepala keluarga (KK) terdampak bencana.
Sebanyak 16 KK atau 46 jiwa saat ini mengungsi di tenda darurat, sementara 14 KK lainnya mengungsi secara mandiri. Akses jalan desa sepanjang kurang lebih 60 meter juga dilaporkan berpotensi terputus akibat pergerakan tanah.
PLH Kepala Badan Geologi Lana Saria mengungkap, dari aspek geologi, lokasi berada pada endapan gunungapi muda berupa tuf batuapung dan tuf pasiran, serta lava basalt dari Kompleks Gunungapi Tangkuban Parahu. Material didominasi batuapung, skoria, dan fragmen litik yang telah mengalami pelapukan lanjut. Uji penetrometer menunjukkan tingkat kekerasan tanah hanya 0,5–1,5 kg/cm², mengindikasikan kondisi tanah lembap, gembur, dan mudah lepas.
"Kondisi keairan turut memperparah situasi. Debit air sungai cukup tinggi, sementara saluran drainase berukuran sempit (kurang dari 1 meter) dinilai tidak mampu menampung limpasan air hujan saat curah tinggi. Air permukaan yang tak terkendali meningkatkan tekanan pori tanah dan mempercepat terjadinya longsor," ungkap Lana, dalam keterangannya, Rabu 11 Februari 2026.
Tim pemeriksa menyimpulkan sejumlah faktor penyebab utama, antara lain: 1.Tanah pelapukan yang porous dan lepas berada di atas lapisan batuan kedap air, membentuk bidang gelincir; 2.Kemiringan lereng yang sangat curam;
3.Penggunaan lahan pertanian sayuran berakar dangkal dan greenhouse di lereng; 3.Sistem drainase yang tidak memadai;
Secara mekanisme, hujan deras meningkatkan tekanan pori dan bobot massa tanah, sehingga kohesi antar butir melemah. Kontak antara tanah pelapukan dan batuan vulkanik resisten menjadi bidang gelincir, memicu longsor translasi yang bergerak cepat mengikuti kemiringan lereng.
Mengacu pada Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, lokasi bencana termasuk kategori kerentanan menengah. Namun, dalam Peta Prakiraan Gerakan Tanah Januari 2026, Kecamatan Lembang berada pada potensi menengah hingga tinggi, serta berpotensi mengalami aliran bahan rombakan.
Tim menyimpulkan, dengan kondisi lereng curam, litologi vulkanik lapuk, tata guna lahan, serta curah hujan yang masih tinggi, potensi longsor susulan dan perkembangan retakan masih sangat mungkin terjadi.
Untuk mengurangi risiko, tim merekomendasikan relokasi rumah rusak dan permukiman yang berada di kaki lereng rawan. Warga juga tidak disarankan membangun di bagian atas, tengah, maupun bawah lereng curam tanpa mitigasi struktural sesuai kaidah teknis.
Selain itu, disarankan perubahan penggunaan lahan dari tanaman sayuran menjadi tanaman keras berakar dalam guna memperkuat lereng, penataan drainase terpadu, serta pembuatan terasering dengan sudut maksimal 15 derajat dan rasio jarak aman lereng terhadap permukiman 1:3.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait saat ini terus melakukan pemantauan dan penanganan darurat guna mencegah dampak lanjutan dari bencana tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....