Intelligent Packaging Limbah Pertanian Pantau Kesegaran Pempek

  • 19 Agt 2026 22:18 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Limbah bonggol jagung dan batang pisang dikembangkan menjadi bahan kemasan cerdas untuk memantau kesegaran pempek. Inovasi tersebut dikembangkan melalui penelitian yang memadukan material limbah pertanian dengan antosianin ubi ungu sebagai indikator perubahan mutu pangan.

Penelitian berjudul “Pengembangan Intelligent Packaging Berbasis Limbah Bonggol Jagung dan Batang Pisang dengan Agent Sensitive Antosianin Ubi Ungu untuk Monitoring Kesegaran Pempek” diketuai Pridata Gina Putri. Penelitian ini melibatkan Kurnia Rimadhanty N dan Taufik Nugraha Agassi sebagai anggota.

Pempek dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki kandungan air dan nutrisi yang relatif tinggi sehingga lebih mudah mengalami penurunan mutu selama penyimpanan. Kondisi tersebut mendorong peneliti mencari sistem pemantauan kesegaran yang praktis dan mudah digunakan konsumen.

“Melalui pemanfaatan antosianin ubi ungu sebagai sensor alami dan limbah bonggol jagung serta batang pisang sebagai bahan dasar kemasan, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi intelligent packaging yang ramah lingkungan sekaligus aplikatif untuk mendukung pemantauan kesegaran pempek,” ujar Pridata Gina Putri, Rabu, 19 Agustus 2026.

Dalam pengembangannya, limbah bonggol jagung dan batang pisang dimanfaatkan sebagai sumber serat untuk material kemasan. Pemanfaatan biomassa tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada limbah pertanian sekaligus mengurangi penggunaan material kemasan yang bersumber dari bahan tidak terbarukan.

Peneliti menggunakan antosianin dari ubi ungu sebagai pigmen aktif pada label indikator. Pigmen alami tersebut memiliki sifat sensitif terhadap perubahan pH sehingga dapat mengalami perubahan warna pada kondisi keasaman yang berbeda.

Perubahan warna pada label nantinya dapat menjadi informasi visual mengenai kondisi mutu pempek selama penyimpanan. Konsumen diharapkan dapat mengamati indikator tanpa perlu membuka kemasan untuk memperoleh gambaran awal mengenai kesegaran produk.

Penelitian ini mengembangkan konsep intelligent packaging yang menggabungkan fungsi perlindungan pangan dengan sistem pemberi informasi. Pendekatan tersebut membuat kemasan dapat berperan sebagai media pemantauan perubahan mutu produk selama proses penyimpanan dan distribusi.

Pridata Gina Putri sebelumnya juga melakukan penelitian terkait perubahan pH sebagai salah satu parameter dalam memantau kesegaran pangan. Hasil tersebut menjadi dasar pengembangan lebih lanjut dengan memanfaatkan antosianin ubi ungu sebagai sensor alami pada kemasan pempek.

“Perubahan warna pada label indikator diharapkan dapat memberikan informasi visual mengenai perubahan kondisi produk selama penyimpanan,” ucap Pridata.

Pengembangan inovasi ini memiliki tiga fokus utama, yakni pemanfaatan limbah pertanian, penggunaan bahan aktif alami, serta penerapan teknologi kemasan cerdas. Ketiga aspek tersebut diarahkan untuk menghasilkan sistem pengemasan yang lebih ramah lingkungan dan mendukung pemantauan mutu pangan.

Peneliti juga berharap pemanfaatan bonggol jagung dan batang pisang dapat mendukung konsep ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi material bernilai tambah untuk kebutuhan teknologi pengemasan.

Inovasi tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan keamanan dan kualitas pempek selama penyimpanan maupun distribusi. Teknologi ini juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi produk pangan tradisional melalui penerapan teknologi pengemasan modern.

Pengembangan intelligent packaging berbasis bahan alami menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab kebutuhan industri pangan yang semakin memperhatikan aspek keamanan, kualitas, informasi produk, dan lingkungan. Penelitian ini menggabungkan potensi sumber daya lokal dengan inovasi teknologi untuk menghasilkan kemasan yang lebih informatif dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....