Lampung Dorong Pengembangan Bioetanol
- 14 Sep 2026 20:46 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung: Pemerintah Provinsi Lampung mendorong pengembangan bioetanol sebagai sumber energi terbarukan berbasis pertanian. Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran Bioethanol Development Center Lampung di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Senin 14 September 2026.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekosistem bioetanol nasional karena didukung sektor pertanian, agroindustri, serta ketersediaan berbagai komoditas sebagai bahan baku energi.
Menurut Mirza, pengembangan bioetanol merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Komoditas pertanian tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sumber energi dan industri.
“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri,” kata Mirza.
Lampung memiliki sejumlah komoditas yang berpotensi menjadi bahan baku bioetanol. Di antaranya ubi kayu dengan produksi sekitar 7,5 juta ton, padi sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling, jagung sekitar 1,7 juta ton, serta tebu dengan produksi sekitar 724 ribu ton gula kristal putih. Sektor pertanian sendiri menyumbang sekitar 27 persen terhadap struktur ekonomi Lampung.
Pengembangan bioetanol juga akan diarahkan menggunakan konsep multi-feedstock, dengan memanfaatkan berbagai bahan baku, termasuk singkong, sorgum, serta limbah biomassa. Pengembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi membentuk ekosistem dari penyediaan benih, budidaya, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa hingga pemanfaatan produk turunan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan fasilitas Bioethanol Development Center di Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 dalam skala proyek percontohan 60 kiloliter. Fasilitas tersebut akan didukung lahan demplot budidaya seluas 10 hektare.
Menurut Todotua, fasilitas percontohan itu akan menguji keekonomian produksi bioetanol generasi pertama berbahan singkong dan sorgum, serta generasi kedua yang memanfaatkan limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu.
Pemerintah menargetkan pengembangan tersebut dapat masuk ke skala komersial dengan kapasitas 60 ribu kiloliter. Pengembangannya juga akan melibatkan kelompok tani dan koperasi sebagai penyedia bahan baku atau feedstock hub.
Todotua menyebut pengembangan bioetanol di Lampung memiliki keterkaitan dengan kebutuhan energi nasional. Bioetanol diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk substitusi bahan bakar bensin sekaligus mendukung kebijakan transisi dan bauran energi.
Pengembangan pusat bioetanol tersebut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, serta sejumlah mitra lainnya.
Dalam peluncuran tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama pengembangan agribisnis ketahanan energi dan pangan antara PT Pertamina New and Renewable Energy dan Pemerintah Provinsi Lampung. Selain itu, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait pengkajian potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Pembangunan fasilitas ditandai dengan prosesi peletakan semen perdana dan penanaman bibit sorgum unggul di lahan demplot seluas 10 hektare. Pemerintah Provinsi Lampung berharap pengembangan bioetanol dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian energi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....