Pemprov Lampung Dorong Hilirisasi Gabah di Tingkat Desa lewat Bed Dryer

  • 15 Agt 2026 05:40 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu: Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal memastikan bantuan mesin bed dryer di Pekon Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, benar-benar dimanfaatkan untuk mempercepat pengeringan gabah sekaligus meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil panen petani.

Menurut Gubernur Mirza, pengeringan gabah di tingkat desa menjadi salah satu kunci agar petani tidak lagi terpaksa menjual hasil panen dalam kondisi basah dengan harga yang lebih rendah.

"Sekarang karena sudah untung kita mau tambah lagi untungnya. Kita buat pengering," ucap Gubernur Mirza saat berdialog dengan petani di Pekon Sumber Agung, Jumat 14 Agustus 2026.

Bed dryer tersebut dikelola Kelompok Tani Sumber Tani 8 dan terintegrasi dengan pengelolaan pabrik terpadu di Pekon Sumber Agung. Mesin itu memiliki kapasitas sekitar 20 ton gabah dalam sekali proses pengeringan.

Ketua Kelompok Tani Sumber Tani 8 Andi Lala mengatakan, sebelum tersedia bed dryer, petani mengandalkan lantai jemur atau terpal untuk mengeringkan gabah. Keterbatasan tempat membuat sebagian besar petani harus menggunakan cara manual tersebut.

Dalam praktiknya, pengeringan secara manual membutuhkan waktu jauh lebih lama. Untuk gabah dari lahan sekitar seperempat hektare, proses pengeringan dapat berlangsung tiga sampai empat hari ketika cuaca cukup baik dan bisa mencapai satu pekan saat hujan sering turun.

Kondisi tersebut membuat petani menghadapi risiko penurunan mutu gabah, terutama ketika hasil panen tidak segera mendapatkan sinar matahari yang cukup.

"Untuk pengering gabah dalam jumlah kapasitas 20 ton itu kurang lebih 15 hari. Jadi sangat kurang produktif dan kualitasnya pun kurang bagus," ucap Andi. Ia berharap keberadaan bed dryer dapat membuat hasil panen lebih cepat kering sehingga kualitas gabah dan jangkauan pasar meningkat.

Dengan bed dryer, proses pengeringan diperkirakan dapat dipangkas menjadi sekitar 10-12 jam untuk kapasitas hingga 20 ton. Menurut Andi, waktu pengeringan yang lebih singkat juga berpotensi menjaga mutu gabah karena petani tidak lagi terlalu bergantung pada kondisi cuaca.

Perubahan tersebut dinilai penting karena gabah kering memiliki daya simpan lebih panjang dibandingkan gabah basah. Dalam dialog dengan gubernur, petani menyebut gabah yang sudah kering dapat disimpan hingga sekitar satu tahun, sehingga petani memiliki pilihan untuk tidak langsung menjual hasil panennya ketika harga sedang kurang menguntungkan.

Gubernur Mirza mengatakan, pengeringan di tingkat desa juga dapat mengurangi biaya dan beban angkutan. Gabah yang masih mengandung kadar air tinggi membuat petani ikut membayar biaya untuk mengangkut air yang sebenarnya dapat dikurangi sejak dari sentra produksi.

"Yang tadinya harus bawa mobil 10 ton atau 20 ton, karena tidak perlu bawa air, jadi cuma bawa 5 ton atau 7 ton. Jadi mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang," ungkap Gubernur. Menurutnya, efisiensi tersebut pada akhirnya juga dapat membantu menjaga kondisi jalan desa.

Pemanfaatan bed dryer juga diarahkan untuk mendorong petani tidak berhenti pada penjualan gabah. Setelah dikeringkan, hasil pertanian dapat diproses lebih lanjut menjadi beras, sementara produk samping seperti bekatul dan sekam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk bahan pakan dan pupuk.

"Selain itu bisa langsung dilakukan hilirisasi. Yang tadinya cuma jual gabah karena sudah kering bisa dijadikan beras, dapat katul, dapat sekam," ujar Gubernur. Ia menyebut pengembangan tersebut sebagai bagian dari program Desaku Maju untuk mendorong hilirisasi agroindustri di tingkat desa.

Pengelola pabrik terpadu Wargito menjelaskan, pengeringan dan pengolahan hasil panen akan menjadi satu rangkaian. Setelah gabah dikeringkan oleh kelompok tani, gabah tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi beras sehingga nilai tambahnya tetap berada di desa.

Bagi petani, manfaat ekonomi dari peningkatan kualitas tersebut menjadi perhatian utama. Saat berdialog dengan gubernur, petani menyebut harga gabah kering giling saat ini sekitar Rp9.000 per kilogram, sementara Gubernur Mirza mendorong agar peningkatan kualitas dan pengolahan hasil dapat semakin memperbesar nilai ekonomi yang diterima petani.

Gubernur Mirza meminta pengelolaan alat tidak berhenti pada penyediaan mesin, tetapi dilanjutkan dengan pemanfaatan secara optimal dan pengembangan jasa pengeringan bagi petani sekitar. Dengan demikian, petani yang sebelumnya hanya mampu menjual gabah basah dapat memiliki pilihan untuk menjual gabah dalam kondisi kering dengan kualitas yang lebih baik.

Gubernur juga mendorong desa menyiapkan gudang atau lumbung pangan sebagai bagian dari penguatan rantai produksi. Langkah tersebut diharapkan membuat hasil pertanian dapat disimpan, diolah, dan dipasarkan secara lebih terencana, sekaligus membuka ruang usaha baru bagi petani dan generasi muda di desa.

Menurut Gubernur, penguatan dari hulu hingga hilir akan membuat manfaat bantuan alat pertanian tidak berhenti pada percepatan produksi. Petani diharapkan memperoleh nilai tambah dari pengeringan, pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran, sehingga pendapatan meningkat dan aktivitas ekonomi baru tumbuh di desa.

Dengan pemanfaatan bed dryer berkapasitas 20 ton tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berharap petani Sumber Agung semakin mampu menjaga kualitas hasil panen, mengurangi ketergantungan pada cuaca, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai jual gabah. Dalam jangka lebih panjang, pengolahan hasil pertanian di tingkat desa diharapkan membuat lebih banyak nilai ekonomi tetap berputar di Lampung dan langsung dirasakan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....