Pemkab Pesawaran Temui Kendala dalam Pengelolaan Tambak Terbengkalai

  • 03 Jul 2026 17:00 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pesawaran - Keberadaan ratusan tambak yang sudah lama tidak beroperasi di wilayah pesisir Kecamatan Teluk Pandan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Selain terbengkalai, kawasan tersebut juga dinilai berpotensi menjadi habitat berkembang biaknya nyamuk penyebab malaria.

Camat Teluk Pandan, Salpani, mengatakan hampir seluruh tambak di wilayahnya kini sudah tidak lagi aktif. Hanya satu kawasan tambak yang masih beroperasi, yakni di Dusun Sebaris yang sebagian masuk wilayah Desa Hanura dan sebagian lagi berada di Desa Hurun.

“Kalau di Kecamatan Teluk Pandan, yang masih aktif hanya tambak di Cakra, kalau tidak salah. Lokasinya di Dusun Sebaris, sebagian masuk Hanura dan sebagian lagi masuk Hurun. Itu yang masih aktif,” kata Salpani, Jum'at 3 Juli 2026.

Sementara itu, tambak-tambak di Desa Sidodadi, Sukajaya Lempasing hingga Hanura sebagian besar sudah ditinggalkan pemiliknya.

“Kalau yang lain, seperti di Sidodadi, Lempasing, kemudian di Hanura, banyak yang sudah terbengkalai,” ujarnya.

Menurut Salpani, tambak-tambak tersebut awalnya dibangun sebagai lokasi budidaya udang. Namun, seiring waktu banyak yang tidak lagi dikelola sehingga kini hanya menyisakan genangan air.

“Tambak itu dulunya untuk budidaya udang. Sekarang banyak yang sudah kosong dan tidak dimanfaatkan lagi,” katanya.

Ia mengakui pemerintah kecamatan tidak memiliki data pasti mengenai jumlah maupun luas tambak yang terbengkalai. Pendataan tersebut menjadi kewenangan Dinas Perikanan Kabupaten Pesawaran.

“Kalau untuk luasannya memang yang punya data adalah Dinas Perikanan Kabupaten Pesawaran,” ujarnya.

Salpani mengungkapkan, persoalan tambak terbengkalai sebenarnya pernah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pesawaran. Pada masa kepemimpinan Bupati Dendi Ramadhona, pemerintah sempat menginisiasi kesepakatan dengan para pemilik tambak agar lahan yang sudah tidak produktif dapat dikelola oleh pemerintah desa.

“Waktu itu seluruh usaha tambak pernah dikumpulkan dan dilakukan kesepakatan. Pemilik tambak yang lahannya sudah tidak dimanfaatkan diharapkan menyerahkan pengelolaannya kepada desa,” katanya.

Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Sebagian besar pemilik tambak memilih tetap mempertahankan hak pengelolaan lahannya sehingga rencana pemanfaatan kembali tambak oleh pemerintah desa tidak dapat direalisasikan.

“Kesepakatan itu akhirnya tidak berjalan karena pemilik tambaknya tidak mau menyerahkan pengelolaannya. Rata-rata pemilik tambak juga bukan warga yang berdomisili di wilayah kami,” ujar Salpani.

Ia menjelaskan, sebagian besar tambak kosong berada di kawasan pesisir, tetapi tidak berbatasan langsung dengan laut karena masih dipisahkan oleh daratan maupun jalur tertentu.

“Tambak-tambak yang kosong itu rata-rata berada di kawasan pinggiran. Tidak langsung berbatasan dengan laut, masih ada jaraknya,” katanya.

Salah satu kawasan tambak terbengkalai dengan luasan cukup besar berada di Desa Gebang, tepatnya di sekitar kawasan Cakra. Lokasinya bahkan mudah terlihat dari jalan utama.

“Kalau di Gebang itu luas sekali. Yang di sekitar Cakra dekat pom bensin itu, sebelah kiri jalan, semuanya banyak yang kosong,” ujarnya.

Salpani juga meluruskan informasi yang menyebut terdapat tambak garam di Kecamatan Teluk Pandan. Menurutnya, usaha tambak garam tidak ada di wilayah tersebut.

“Kalau tambak garam di Teluk Pandan tidak ada. Yang ada itu di Pulau Legundi,” katanya.

Ia menilai keberadaan tambak-tambak yang terbengkalai masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Selain mengurangi produktivitas kawasan pesisir, kondisi tersebut juga berkaitan dengan persoalan kesehatan masyarakat, khususnya pengendalian malaria.

“Memang ini menjadi persoalan bagi kami, terutama terkait malaria di Teluk Pandan. Karena tambak yang kosong jumlahnya memang sangat banyak,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....