Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Tetap Mahal

  • 01 Jul 2026 04:45 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Hampir semua orang pernah mengalaminya: harga naik dalam semalam, tapi butuh waktu lama—atau bahkan tidak pernah—untuk turun lagi. Kini fenomena itu terjadi pada industri penerbangan global.

Harga bahan bakar pesawat (avtur) sempat melonjak hampir dua kali lipat pada awal pekan-pekan perang Iran, memaksa maskapai menaikkan harga tiket, mengurangi jumlah penerbangan, hingga menaikkan biaya bagasi. Namun kini, meski harga avtur sudah turun signifikan selama dua bulan terakhir, harga tiket pesawat justru tak kunjung kembali ke level semula.

CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, mengakui bahwa maskapainya "tidak punya pilihan lain" selain menaikkan harga, mengingat perusahaan penerbangan besar seperti Delta harus menanggung tambahan biaya hampir 2 miliar dolar AS akibat lonjakan harga bahan bakar pada kuartal ini. Namun ironisnya, meski biaya operasional kini "turun signifikan", Bastian menyebut harga tiket saat ini sudah berada di "level yang tepat" dan tidak akan diturunkan.

Permintaan Tinggi Jadi Alasan Utama

Tingginya harga tiket yang bertahan ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya permintaan penumpang selama musim liburan musim panas, ditambah berkurangnya jumlah kursi yang tersedia, bukan semata-mata karena biaya bahan bakar.

Faktor permintaan dan penawaran yang sama inilah yang justru menekan harga avtur ke bawah. Berkurangnya jumlah penerbangan membuat permintaan avtur menurun, sementara kilang-kilang minyak di Amerika Serikat justru meningkatkan produksi avtur untuk meraup keuntungan dari harga yang sempat tinggi, menurut analis minyak independen, Tom Kloza.

Akibatnya, harga avtur di pasar spot tercatat anjlok 40 persen sejak puncaknya pada April lalu, berdasarkan data Airlines for America per 25 Juni.

Sementara itu, hampir seluruh harga tiket pesawat justru naik 15 hingga 20 persen dibanding tahun lalu, menurut data Deutsche Bank Securities yang melacak ratusan tarif resmi maskapai. Analis penerbangan Deutsche Bank, Mike Linenberg, mencatat bahwa maskapai telah menaikkan harga tiket sebanyak delapan kali sejak musim semi, dengan kenaikan terakhir terjadi dua pekan lalu.

Linenberg menjelaskan, tarif yang lebih tinggi juga disebabkan oleh berkurangnya jumlah kursi secara keseluruhan, karena maskapai menghapus penerbangan-penerbangan dengan tarif murah yang kurang diminati. Ditambah lagi, tutupnya Spirit Airlines pada Mei semakin memperparah keterbatasan pasokan kursi di pasar.

Bahkan para eksekutif maskapai secara terbuka mengakui bahwa faktor utama penentu harga tiket adalah pasokan kursi dan permintaan penumpang, bukan harga bahan bakar.

"(Harga tiket) akan ditentukan oleh kondisi pasar, bukan oleh rumus akademis atau target pemulihan biaya bahan bakar yang dihitung secara matematis," ujar CEO Southwest Airlines, Bob Jordan, dalam panggilan laporan keuangan kuartalan pada April lalu.

Pendapatan Maskapai Justru Melampaui Kenaikan Biaya Bahan Bakar

Bukan berarti lonjakan harga avtur awal tahun ini tidak membebani maskapai. Avtur merupakan komponen biaya terbesar kedua dalam industri penerbangan—pesawat komersial berbadan tunggal saja mengonsumsi sekitar 800 galon bahan bakar per jam. Tiga maskapai terbesar AS—Delta, American, dan United—melaporkan tambahan pengeluaran sebesar 1 miliar dolar AS untuk bahan bakar hanya dalam kuartal kedua saja.

Namun menurut Linenberg, pendapatan dari kenaikan tarif justru akan melampaui kenaikan biaya bahan bakar tersebut. Banyak maskapai, terutama maskapai diskon berskala kecil, memang membutuhkan suntikan dana tambahan.

"Bayangkan berapa banyak maskapai yang belum kembali meraih keuntungan berkelanjutan sejak pandemi Covid-19—Anda tidak bisa terus merugi tahun demi tahun dan berharap perusahaan tetap bertahan," ujarnya.

Inilah yang diduga menjadi alasan mengapa maskapai tidak terburu-buru menurunkan harga tiket.

"Semakin lama konsumen membayar harga ini dan maskapai terbiasa dengan aliran pendapatan tersebut, semakin besar kemungkinan harga ini akan bertahan secara permanen," kata Chief Commercial Officer United Airlines, Andrew Nocella, kepada para investor pada April lalu.

Sejumlah tiket dengan harga lebih murah memang diperkirakan akan muncul pada musim gugur mendatang, namun itu pun karena tarif memang biasanya turun setelah musim liburan musim panas berakhir. Meski demikian, para ahli tetap memperkirakan kenaikan harga tiket pada musim gugur tahun ini akan setara dengan persentase kenaikan tahun 2025, seiring proyeksi pemesanan tiket yang masih akan kuat hingga akhir tahun.

"Ini bukan situasi di mana kita bisa berharap harga tiket pesawat akan mendingin dengan sendirinya," kata Zach Griff, penulis buletin penerbangan From the Tray Table. "Dan biaya bagasi itu sifatnya sangat melekat—Anda tidak akan melihat maskapai menariknya kembali."

Penumpang Pasrah Hadapi Kenaikan Harga

Sejumlah penumpang United Airlines di bandara hub mereka, Newark Liberty International Airport, mengaku tidak senang dengan tingginya harga tiket yang bertahan, meski mereka mengaku tidak terkejut.

"Memang begitu selalu caranya," kata Ban Morel, yang saat itu sedang menunggu dua koper di area pengambilan bagasi, dengan biaya bagasi sebesar 100 dolar AS—di luar tiket pulang-pergi ke Puerto Riko seharga 400 dolar AS. "Semua harga selalu naik, tapi sepertinya tidak pernah turun kembali."

Morel mengaku belum tahu apakah kenaikan harga tiket akan membuatnya mengurangi frekuensi bepergian di masa depan, namun ia memastikan akan membawa bagasi lebih sedikit ke depannya.

Senada dengan itu, Michael Boenisch (67) bersama istrinya juga menunjukkan sikap pasrah serupa saat menunggu bagasi sepulang dari liburan ke Eropa.

"Harga langsung naik begitu cepat, tapi butuh waktu lama sekali untuk turun kembali," ujarnya. "Saya rasa saya hanya bisa pasrah."

Meski begitu, ia mengaku tidak puas dengan apa yang ia dapatkan dari uang yang dikeluarkannya.

"Penerbangan udara adalah satu-satunya hal yang justru semakin memburuk sepanjang hidup saya," kata Boenisch. "Dulu kami mengira sekarang sudah bisa terbang lintas-Atlantik hanya dalam tiga jam. Tapi kenyataannya, kita malah terjepit di kursi yang bahkan orang dengan badan lebih besar dari saya pun sudah tidak muat lagi."

Namun tidak semua penumpang di Newark berencana mengurangi rencana perjalanan udara mereka musim panas ini, meski biaya semakin membengkak.

Shané Harris, yang baru kembali dari perjalanan ke Washington DC bersama suaminya Stefon dan putranya Langston, mengaku keluarganya masih merencanakan tiga perjalanan udara lagi musim panas ini—ke Atlanta, Indianapolis, dan Portugal.

"Saya rasa kami justru semakin sering terbang karena aktivitas anak-anak kami," ujarnya. "Itu sudah jadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari."

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....