APBN Lampung Awal 2026 Tetap Tangguh ditengah Tekanan Global

  • 25 Mar 2026 08:25 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung: Kinerja APBN Regional Provinsi Lampung pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tekanan global, ditandai dengan aktivitas ekonomi yang masih ekspansif, inflasi yang terkendali, serta dukungan kuat dari sektor manufaktur di tengah gejolak harga komoditas dan kebijakan moneter ketat dunia.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung, Purwadhi Adhiputranto, menyampaikan, disiplin fiskal yang terjaga menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.Menurutnya, meskipun dihadapkan pada kebijakan moneter global yang ketat serta volatilitas harga komoditas, aktivitas ekonomi sektor riil di Lampung masih berada dalam zona ekspansif.

Pada awal tahun ini, dinamika ekonomi global masih didominasi oleh kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap harga komoditas global. Selain itu, ketegangan geopolitik turut memicu kenaikan biaya logistik internasional, khususnya pada rute Asia menuju Amerika Serikat dan Eropa, yang meningkat hingga 15%–20%.

Dampaknya, sejumlah komoditas unggulan Lampung mengalami koreksi harga pada Januari 2026. Harga batu bara tercatat turun menjadi US$96,47 per ton atau terkoreksi 4,30% secara bulanan. Sementara itu, harga Crude Palm Oil (CPO) mengalami penurunan 1,13% menjadi US$915,64 per metrik ton. Penurunan paling signifikan terjadi pada komoditas kopi robusta yang merosot 9,70% akibat melimpahnya pasokan global, khususnya dari Vietnam.

"Meski demikian, sektor riil di Lampung tetap menunjukkan performa yang menggembirakan. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang berada pada level 52,6 serta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 54,12, yang keduanya mengindikasikan ekspansi aktivitas industry," ujarnya, belum lama ini di Bandarlampung.

Dari sisi perdagangan, Lampung mencatatkan surplus sebesar US$499,47 juta pada akhir 2025, dengan pertumbuhan ekspor mencapai 24,29% secara bulanan yang didominasi sektor pertanian dan industri pengolahan. Di sisi lain, impor bahan baku meningkat signifikan sebesar 68,27%, mencerminkan optimisme pelaku usaha dalam meningkatkan kapasitas produksi di awal tahun 2026.

Sementara itu, stabilitas harga domestik juga tetap terjaga. Inflasi tahunan tercatat sebesar 1,90% (year-on-year), masih berada dalam rentang target nasional sebesar 2,5±1%. Bahkan secara bulanan, Lampung mengalami deflasi sebesar -0,07% yang dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai dan bawang merah serta penyesuaian harga bahan bakar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....