Frontier Airlines: Belajarkah dari Kejatuhan Spirit?
- 31 Mei 2026 19:26 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Kepailitan Spirit Airlines membuka peluang besar bagi Frontier Airlines. Namun di balik kesempatan itu, ancaman serupa mengintai maskapai asal Denver tersebut.
Spirit tumbang akibat tekanan keuangan yang berkepanjangan dan lonjakan harga bahan bakar. Frontier, yang sempat berupaya merger dengan Spirit pada 2022, kini menjadi maskapai dengan tumpang tindih rute terbesar bersama mantan rivalnya itu. Keduanya mengandalkan model bisnis serupa: tiket murah dengan biaya tambahan untuk setiap layanan.
Memasuki musim panas — periode paling krusial bagi industri penerbangan — Frontier mulai menaikkan tarif pada rute-rute bekas Spirit. Posisi kasnya pun dinilai jauh lebih sehat. Namun sejumlah analis mengingatkan bahwa tekanan industri masih nyata.
"Posisi kas Frontier jauh lebih kuat dibanding Spirit dulu," ujar Shye Gilad, profesor bisnis Universitas Georgetown yang juga mantan eksekutif maskapai. "Tapi saya tidak meremehkan tekanan yang dihadapi industri, terutama maskapai berbiaya sangat rendah."
Harga Bahan Bakar Jadi Momok Bersama
Seluruh maskapai AS, dari yang berbiaya rendah hingga empat maskapai besar, sama-sama bergulat dengan kenaikan harga avtur. Harga bahan bakar — pos pengeluaran terbesar kedua setelah tenaga kerja — telah melonjak 30 persen sejak pecahnya konflik di Iran.
Mayoritas maskapai menaikkan tarif lebih dari 20 persen dibanding tahun lalu, namun kenaikan itu belum cukup menutupi seluruh beban biaya baru.
Frontier sendiri sebenarnya sudah merugi sebelum harga avtur melonjak. Maskapai itu mencatat kerugian 137 juta dolar AS tahun lalu, dan terus merugi sejak pandemi — kecuali pada 2024 ketika membukukan laba tipis.
CEO Frontier James Dempsey tetap optimistis. "Kami berada di jalur yang sangat baik pada kuartal pertama sebelum harga bahan bakar melonjak," katanya dalam rapat kinerja awal Mei lalu. "Kami bahkan hampir mencapai titik impas di kuartal pertama dan berpeluang meraih untung di kuartal kedua."
Masalah Reputasi yang Lebih Dalam
Di luar soal keuangan, Frontier menghadapi tantangan besar dalam hal layanan pelanggan. Survei kepuasan JD Power menempatkan Frontier di posisi paling bawah — bahkan di bawah Spirit, yang reputasi buruknya menjadi salah satu penyebab kejatuhannya.
"Layanan mereka tidak sebaik maskapai besar. Sesederhana itu," kata konsultan industri penerbangan Michael Boyd. "Saat ini, orang naik Frontier semata-mata karena harganya."
Frontier mengklaim tengah berbenah. Layanan telepon untuk penumpang kembali dibuka pada 2024 setelah sempat dihentikan, kursi kelas satu yang lebih luas mulai ditawarkan, dan Wi-Fi dijanjikan tersedia pada 2027. Pihak maskapai juga menyebut keterlambatan dan pembatalan penerbangan terus menurun.
Namun Boyd meragukan apakah perbaikan operasional saja cukup untuk mengubah citra. "Anda bisa merestrukturisasi banyak hal, tapi tidak bisa merestrukturisasi apakah penumpang mau naik pesawat Anda," tegasnya.
Bagi Frontier, pertanyaan terbesar bukan sekadar soal bertahan secara finansial — melainkan memenangkan kembali kepercayaan penumpang yang selama ini merasakan layanan yang jauh dari memuaskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....