Luka Ganda Inflasi & Perang Iran Hantam Konsumen

  • 31 Mei 2026 21:03 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Sebuah penelitian dari Bank Sentral Eropa (ECB) mengungkapkan bahwa konsumen di kawasan euro mengalami "luka ganda" akibat trauma inflasi pascapandemi dan ketegangan geopolitik dari perang Iran. Kondisi ini disebut dapat mengancam penurunan belanja ritel.

ECB mencatat, rumah tangga di Eropa kini lebih sensitif terhadap dampak ekonomi dari perang Iran karena luka ekonomi kumulatif yang ditinggalkan oleh lonjakan inflasi pascapandemi dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang memicu harga energi melambung.

Dalam unggahan blog resmi mereka, Jumat (29/5), para peneliti ECB memperingatkan bahwa "bekas luka" psikologis ini memperkuat ketakutan akan stagflasi—kondisi ketika kenaikan harga terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Data Survei Ekspektasi Konsumen ECB Maret 2026 menunjukkan, hanya satu bulan setelah konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari, ekspektasi inflasi konsumen melonjak tajam hingga 2,5 poin persentase. Sementara itu, ekspektasi pertumbuhan ekonomi turun sekitar 1,2 poin persentase.

Meskipun harga minyak sudah turun 20 persen pada Mei, angkanya masih 30 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang Iran meletus. Para peneliti ECB memperingatkan adanya risiko reaksi berlebihan, karena konsumen cenderung memperpanjang ketakutan jangka pendek menjadi perilaku jangka menengah.

"Kami menemukan bukti bahwa konsumen mengalami perang di Iran dengan potensi 'luka ganda': satu dari lonjakan inflasi baru-baru ini, dan lainnya dari efek berkepanjangan ketegangan geopolitik sebelumnya. Kedua luka ini bisa saling memperkuat dan kemungkinan besar akan membentuk ekspektasi serta perilaku konsumen dalam beberapa bulan ke depan," tulis peneliti ECB.

ECB diperkirakan akan menaikkan suku bunga seperempat poin pada Juni untuk mengelola dampak ekonomi dari situasi ini.

Dampak pada Belanja Ritel

Kekhawatiran makroekonomi ini langsung berdampak pada perilaku belanja konsumen yang menjadi lebih konservatif. Melissa Minkow, Direktur Global Strategi Ritel di CI&T, mengatakan konsumen saat ini sangat sadar akan kenaikan biaya.

"Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti sembako sangat terasa. Konsumen kita saat ini sangat konservatif dan pilih-pilih dalam membelanjakan uangnya," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC. Ia menambahkan, kenaikan biaya pengiriman akibat mahalnya bahan bakar juga membuat konsumen tidak nyaman.

Minkow menekankan bahwa para peritel harus bergerak cepat merespons konsumen yang sadar biaya dan berinvestasi pada teknologi. Ia mengingatkan bahwa garis batas antara politik dan ritel kini semakin kabur, dan peritel harus siap menghadapi realitas baru tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....