Inspirasi Pemuda NTT Ubah Tren Wisata
- 08 Sep 2026 17:40 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Propinsi berbasis kepulauan NTT sekarang menjadi primadona wisata dunia, mulai dari Flores, Sumba,Timor sampai keindahan Alor. Arianto Selly Sebagai influencer wisata muda,menanggapi pergeseran tren wisata di NTT saat ini apakah masih sebatas berburu foto yang estetik.
"Jujur saja,beberapa tahun lalu trennya memang murni visual. Orang datang ke NTT, unggah di Instagram dengan filter terbaik, lalu pulang, foto estetik itu magnetnya. Tapi belakangan ini, ada pergeseran kesadaran, anak muda mulai sadar bahwa kalau kita cuma eksploitasi visualnya tanpa merawat alamnya, keindahan itu bakal hilang," ujarnya pada perbincangan rri.co.id, Minggu 6 September 2026.
Ia berpendapat, trennya sekarang mulai bergeser dari sekadar menjelajahi menuju kesadaran wisata. Peran influencer mengubah tren tersebut menjadi aksi nyata peduli bumi dapat mengimplementasikan hal ini ke dalam konten
"Sebagai kreator, punya tanggung jawab moral saya tidak lagi cuma membuat unggahan seperti surga yang tersembunyi, tetapi saya sisipkan edukasi, misalnya, saat membuat video sinematik cerita tentang masalah sampah plastik di sana. Atau bagaimana wisatawan harus membawa kembali botol minum mereka sendiri.Jadi, pengikut saya tidak cuma datang sebagai penonton, tapi sebagai pelindung alam," ucap Arianto.
Pendekatan edukasi tetap diminati oleh audiens, mengingat media sosial sering kali mengutamakan hiburan yang cepat dan ringan. "Awalnya memang sangat menantang untuk buat konten edukasi lingkungan."
Sering kali dirinya mendapat tayangan yang lebih sedikit dibanding video transisi pakaian atau foto estetik biasa, tetapi kuncinya ada pada pengemasan. "Kita harus mengemas isu lingkungan secara visual yang ciamik dan kekinian. Sekarang, audiens justru lebih respek pada kreator yang punya sikap dan peduli pada isu sosial-lingkungan."
Menurutnya, masalah utama pariwisata di NTT pada umumnya terletak pada pengelolaan sampah dan krisis air bersih. Hal ini menjadi kendala promosi obyek wisata di beberapa wilayah yang kering juga Infrastruktur daur ulang di pulau-pulau kecil belum sekuat di kota besar.
"Kami mendesak adanya perubahan perilaku dari hulu, yaitu wisatawan itu sendiri, kami mengampanyekan gaya hidup bersih selama liburan. Selain itu, kami menggunakan kekuatan digital kami untuk menyuarakan suara masyarakat adat atau pemandu lokal yang sering kali menjadi garda terdepan penjaga alam ini,’’ ucapnya.
Pesan Arianto untuk anak-anak muda atau sesama kreator konten yang ingin mulai mengubah gaya traveling mereka agar lebih peduli bumi. "Untuk teman-teman semua, ingatlah bahwa bumi NTT, dan bumi tempat kita berpijak secara umum, bukan sekadar latar belakang foto demi validasi di media sosial."
Menurutnya setiap jejak kaki kita punya dampak, jadilah wisatawan yang bertanggung jawab. Tinggalkan jejak digital yang menginspirasi, tapi jangan tinggalkan jejak sampah yang merusak alam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....