Permakultur Konsep Pertanian Mandiri
- 18 Jan 2026 16:08 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID,Atambua: Kepala Sekolah pariwisata perhotelan Sumba Hospitality Foundation (SHF) Kabupaten Sumba Barat Daya-NTT, Yong Aten Fernandez mengatakan kebijakan vokasi siswa dalam mengintegrasikan pertanian permakultur sebagai inti operasional dan pendidikan untuk menciptakan pariwisata berkelanjutan di Sumba.
"Permakultur digunakan sebagai sistem tata kelola lahan yang berkelanjutan untuk mendukung operasional sekolah dan hotel. Fokus pertanian permakultur SHF pada pertanian organik, daur ulang air, penggunaan energi surya, dan pembangunan ramah lingkungan," katanya kepada rri.co.id,Jumat 17 Januari 2026.
Utamanya adalah menciptakan ekosistem pertanian yang mandiri dan memberdayakan masyarakat lokal serta mengurangi ketergantungan dan mencegah kemiskinan. Dikatakan Aten, SHF memilih konsep permakultur daripada pertanian konvensional karena selaras dengan misi mereka untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan secara ekologis, sosial, dan ekonomi.
‘’Sumba memiliki iklim yang kering dengan musim kemarau yang panjang. Permakultur dipilih karena tekniknya berfokus pada konservasi air, peningkatan kualitas tanah secara alami tanpa bahan kimia, dan ketahanan pangan yang adaptif terhadap kondisi iklim lokal," ujarnya.
Permakultur memberikan manfaat langsung bagi dunia pendidikan dengan mengubah lingkungan sekolah menjadi laboratorium hidup yang interaktif.
"Para siswa mendapatkan perspektif baru tentang pertanian organik dan berkelanjutan, belajar keterampilan praktis, dan memahami bagaimana membangun bisnis perhotelan yang selaras dengan alam, bukan merusaknya," ucap Aten.
Penerapan pertanian permakultur berkelanjutan memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan sekitar. Pendekatan ini berfokus pada kerja sama dengan alam, bukan menguasainya, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan asri.
"Selain memulihkan kesuburan tanah yang sebelumnya gersang, SHF menjadi pusat edukasi bagi petani lokal. Konsep ini menunjukkan bahwa dengan teknik yang tepat, lahan kering di Sumba dapat produktif secara ekonomi tanpa merusak alam," tuturnya.
Penggunaan konsep permakultur oleh yayasan pendidikan pariwisata SHF mengubah paradigma dari pariwisata yang sekadar konsumtif menjadi pariwisata yang regeneratif (memperbaiki lingkungan dan memberdayakan komunitas.
"Mereka memperoleh keterampilan praktis, pola pikir regeneratif, dan pemahaman mendalam tentang pariwisata ramah lingkungan, yang membuat mereka lebih unggul di industri pariwisata masa depan," tutur Aten.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....