UMKM Fondasi Penting dalam Perekonomian Nasional

  • 15 Apr 2026 15:26 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam perekonomian nasional. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa UMKM merupakan usaha produktif milik perorangan atau badan usaha dengan keterbatasan modal, tenaga kerja, dan omzet. UMKM dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Yohanes B. Ngga'A Rua, S.Fil seorang pelaku UMKM di wilayah perbatasan Atambua membagikan pengalamannya dalam mengelola usaha peternakan ayam skala kecil. Dengan keterbatasan lahan dan modal, ia saat ini hanya memelihara sekitar 350 ekor ayam. Meski demikian, usaha tersebut tetap berjalan produktif dan memberikan hasil yang signifikan.

Setiap hari, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar dua rak telur atau kurang lebih 60 butir. Dengan harga jual Rp5.000 per butir, pendapatan harian mencapai Rp. 300.000. Setelah dikurangi biaya pakan dan operasional sekitar Rp. 100.000, keuntungan bersih masih dapat diraih secara konsisten.

Selain produksi telur, Yohanes juga mempunyai usaha menjual ayam sebagai sumber protein daging. Dalam satu minggu, yohanis mampu menjual hingga 30 ekor ayam dengan harga rata-rata Rp. 60.000 per ekor.

"Jika diakumulasikan, total omzet usaha yang diperoleh setiap bulan dapat mencapai Rp. 15 juta. Jumlah ini saya dapat dari hasil menjual telur dan ayam " ucapnya.

Dalam mengelola keuangan, pelaku UMKM ini menerapkan strategi menabung sebagai bentuk ketahanan usaha. Sebagian pendapatan disimpan di bank maupun dalam bentuk emas untuk mengantisipasi kenaikan harga pakan. Ia juga memanfaatkan momen harga bahan baku murah seperti jagung dan dedak untuk dibeli dalam jumlah besar dan diolah sebagai pakan.

Mengusung konsep urban farming, Iya menjalankan usaha peternakan di wilayah perkotaan tanpa lahan pertanian sendiri. Untuk mendukung operasional, ia mempekerjakan tenaga kerja, baik untuk produksi pakan maupun pekerja paruh waktu. Selain itu, ia juga mengembangkan usaha tambahan berupa laundry rumahan yang turut membuka lapangan pekerjaan.

Dalam hal pemasaran, Yohenes mulai memanfaatkan digitalisasi melalui grup WhatsApp dan Facebook untuk mengelola pelanggan. "Dengan sekitar 60 pelanggan, sistem distribusi dilakukan secara terjadwal agar permintaan tetap stabil. Ia menilai bahwa lingkungan UMKM di wilayah seperti Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Alor sudah cukup kondusif, sehingga masyarakat diharapkan mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri". ujarnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....