Belis Manggarai: Makna Budaya di Balik Tradisi

  • 09 Jun 2026 13:41 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Manggarai - Belis Manggarai merupakan adat yang sangat penting bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi ini mengandung simbol penghormatan kepada perempuan dan pengikat hubungan dua keluarga.

Pihak laki-laki biasanya memberikan mas kawin berupa uang, kerbau, ataupun kuda. Namun, banyak orang keliru dan menganggap tradisi ini sebagai bentuk penukaran perempuan.

Pandangan sempit tersebut lahir akibat kurangnya pemahaman terhadap esensi sejati budaya Manggarai. Antropolog Gregory Forth menegaskan mas kawin di Flores bukan bentuk pembelian perempuan.

Tradisi ini merupakan mekanisme sosial untuk mempererat hubungan antarklan dalam komunitas. Pemberian tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap nilai sosial perempuan di masyarakat.

Tokoh masyarakat Manggarai Timur, Bapak Ignasius, menyebut belis sebagai ekspresi rasa syukur. Penghargaan ini diberikan karena keluarga perempuan telah membesarkan anak mereka.

Ilustasi grafik tentang makna budaya dari tradisi "Belis". (Foto: Dibuat oleh AI/Valeria Revaliana)

Belis bukanlah sebuah transaksi jual-beli melainkan suatu ikatan moral yang sakral. Sosiolog Dr. Marianus Kleden berpendapat belis berfungsi sebagai simbol komitmen laki-laki.

Laki-laki berkomitmen untuk selalu merawat, melindungi, dan menghormati perempuan yang dinikahinya. Nilai ini menjunjung tinggi keseimbangan relasi gender dalam ikatan adat.

Namun, seiring perkembangan zaman, belis kini sering bergeser menjadi beban ekonomi keluarga. Sebagian masyarakat mulai mengaitkan besaran belis dengan status sosial perempuan.

Besaran belis juga kerap diukur dari kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan. Akibatnya, nilai luhur tradisi ini tereduksi menjadi sekadar ajang prestise.

Pakar budaya Prof. Budi Susanto, S.J. mengingatkan bahaya hilangnya substansi spiritual tradisi. Jika hanya menyisakan aspek material, budaya akan menuju krisis identitas.

Masyarakat perlu kembali merefleksikan makna asali tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan belis pada nilai aslinya.

Belis harus dimaknai sebagai penghargaan dan komitmen suci, bukan kalkulasi ekonomi. Tradisi luhur ini wajib tetap hidup sesuai nilai asli Manggarai.

Valeria Revaliana, penulis opini "Belis Manggarai: Makna Budaya di Balik Tradisi". (Foto: Dok. Valeria Revaliana)

Oleh: Valeria Revaliana (Mahasiswa Semester Dua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....