Keberhasilan Kelompok Tani Rindu Sejahtera Panen Perdana Terong
- 25 Agt 2023 17:37 WIB
- Atambua
KBRN. Atambua: Warga Kelompok Tani Rindu Sejahtera di Dusun Leolaran, Sirani, Desa Umaklaran, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu panen perdana terong, setelah sukses menggunakan metode pertanian cerdas iklim.
Kelompok ini merupakan bagian dari program INCIDENT yang dikembangkan oleh Yayasan CIS Timor bekerja sama dengan petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Belu. Selain terong, kelompok ini juga menanam cabe dan jagung di lahan seluas setengah hektar.
Ketua Kelompok Tani Rindu Sejahtera, Orlando, mengungkapkan bahwa pola tanam sederhana ini telah menghasilkan panen yang memuaskan untuk terong, cabe, dan jagung.
"Awalnya, kami ikut pelatihan pupuk kompos dengan metode gali lubang, memasukan pupuk kemudian menanam dan selanjutnya penyiraman hingga panen hari ini hasilnya memuaskan," ucap Orlando.
Metode pertanian cerdas iklim ini, diakui Orlando, memberikan manfaat besar bagi petani. Selain lebih terjangkau secara anggaran, metode ini juga mengandalkan penggunaan pupuk organik dangan pemanfaatan lingkungan sekitar.
"Kami mulai tanam bibitnya sejak 14 Juni lalu. Kami puas, karena sistem pertanian cerdas iklim dengan pola gali lubang ini sukses dan kedepan kami terus gunakan metode ini. Terima kasih untuk Cis Timor, CRS atas programnya, PPL serta Babinkamtibmas dan Babinsa yang selalu dampingi kami," kata Orlando.
Deonato Moreira, Field Officer Cis Timor Indonesia di Desa Umaklaran, menjelaskan bahwa program INCIDENT dari Yayasan CIS Timor merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) dengan dukungan dari USAID. Program ini mendukung pertanian cerdas iklim yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim, baik musim kemarau maupun hujan.
Program ini tidak hanya mengajarkan metode pertanian, tetapi juga menggunakan pendekatan organik dalam semua aspeknya, mulai dari pemupukan hingga pengendalian hama.
"Kami berikan pelatihan bagi kelompok Rindu Sejahtera Desa Umaklaran pada bulan Maret lalu. Mulai dari pelatihan pupuk kompos, pola gali lubang, pengendalian hama dan sistem penyiraman," ujar Doenata usai panen perdana terong (23/8) bersama PPL, Babinsa dan petani.
Moreira juga mengakui, bahwa program ini menitikberatkan pada pendekatan yang dapat diadopsi oleh seluruh masyarakat. Metodenya mengurangi ketergantungan pada alat berat seperti traktor, dengan penggunaan alat pelubang yang sederhana.
Metode ini juga memperkenalkan bor tanah dengan ukuran lubang 40x40 dan pupuk organik, yang mampu bertahan hingga empat tahun sebelum diperbaharui.
"Program INCIDENT ini terdapat di lima Desa binaan, Desa Bauho, Rinbesihat, Dafala, Desa Tasaen termasuk Desa Umaklaran, yang diharapkan dapat mengembangkan replikasi metode ini," ucap Doenato.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....