Integrasi Kandang, Kolam, Kebun Jadi Sistem Pertanian Terpadu
- 10 Agt 2026 20:24 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Integrasi kandang, kolam, dan kebun menjadi sistem pertanian organik terpadu yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri dan berkelanjutan. Informasi tersebut disampaikan Pendeta GMIT Solafide Motamaro, Yumince Solaiman Pinat,S.Th.,CLC kepada rri.co.id saat ditemui di lokasi lahan, Minggu 09 Agustus 2026.
Ia menjelaskan bahwa sistem yang dibangun menggabungkan peternakan ayam, kambing, serta budidaya ikan dalam kolam dengan tanaman sayur di lahan pekarangan. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya secara maksimal tanpa ketergantungan pada bahan dari luar.
Menurut Yumince, integrasi tersebut menciptakan siklus alami dimana limbah dari ternak dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman secara berkelanjutan. “Dari kandang kotorannya kita kasih ke tanaman, jadi satu siklus yang terus berputar.”
Ia menyebutkan bahwa skala yang diterapkan masih sederhana dengan jumlah ternak terbatas namun mampu memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga sehari-hari. Sistem ini juga memudahkan keluarga dalam memperoleh bahan pangan tanpa harus bergantung pada pasar.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memulai dari skala kecil agar masyarakat tidak merasa terbebani dan dapat belajar secara bertahap. Pendekatan ini juga membantu mengurangi risiko kegagalan yang sering menjadi alasan utama masyarakat enggan memulai.
Ia juga menjelaskan penerapan eco enzyme sebagai pupuk organik yang dibuat dari bahan sederhana seperti buah, gula alami, dan air dengan proses fermentasi. Metode ini dinilai mudah diterapkan oleh masyarakat karena bahan tersedia di lingkungan sekitar.

Dalam praktiknya, ia melihat perubahan pola pikir masyarakat yang mulai tertarik mengintegrasikan pertanian dan peternakan setelah melihat hasil nyata. Beberapa warga bahkan mulai menambah ternak dan memanfaatkan limbah secara lebih efektif untuk meningkatkan produksi.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam memulai sistem ini adalah ketakutan akan kegagalan dan pola pikir yang belum siap berubah. “Yang paling berat itu sebenarnya hanya kita punya pemikiran, karena takut gagal,” ujarnya.
Pendeta Yumince juga mendorong generasi muda untuk melihat sektor pertanian dan peternakan sebagai peluang masa depan yang menjanjikan. Dengan pendekatan organik, sektor ini dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kesehatan lingkungan.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mulai dari langkah kecil dan menemukan kesenangan dalam bertani sehingga dapat berkembang menjadi usaha yang lebih besar. “Mulai saja dulu, nanti pasti akan menemukan kesenangan dari proses itu,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....