Yumince Pinat: Penting Bangun Mental Kewirausahaan
- 03 Agt 2026 08:59 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Yumince Solaiman Pinat, S.Th., CLC, Marketing Trainer UMKM NTT menegaskan pentingnya membangun mental kewirausahaan sejak dini bagi generasi muda di daerah. Hal ini disampaikan dalam program Ekonomi Digital RRI Atambua, Jumat 31 Juli 2026, sebagai upaya menciptakan karakter kuat dan berdaya saing.
Menurutnya, jika tidak dibangun dari sekarang untuk anak-anak kita, maka ke depan tidak akan ada lagi mental entrepreneurship yang kuat di tanah ini. Ia menekankan bahwa tanah ini memiliki karakter yang harus dijaga melalui pembentukan pola pikir mandiri dan produktif.
Yumince juga membagikan visinya untuk mencetak minimal seribu entrepreneur muda yang siap berkembang dan memberi dampak nyata di lingkungan sekitar mereka. Ia mengaku telah mulai menggarap langkah tersebut dari sekarang melalui edukasi dan pendampingan berkelanjutan kepada anak-anak muda.
“Mari generasi muda untuk mulai mengubah cara berpikir, tidak lagi hanya fokus mencari uang tetapi menciptakan nilai agar uang datang dengan sendirinya. Mari mulai berpikir untuk jangan mencari uang, tapi bagaimana uang cari kita,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa uang hanyalah benda mati yang tidak mampu memberikan kebahagiaan atau memenuhi harapan manusia secara utuh. Banyak orang menurutnya keliru karena menganggap uang sebagai sumber utama segala hal dalam kehidupan.
“Bahwa manusia sendirilah yang memiliki kendali untuk menarik uang melalui nilai yang dimiliki dan kontribusi yang diberikan kepada orang lain. Uang itu benda mati, uang tidak bisa sepenuhnya memberikan apa yang kita harapkan,” ujarnya.
Konsep utama entrepreneurship, lanjutnya, adalah bagaimana seseorang hidup berdampak dan memberi manfaat bagi banyak orang melalui ide dan kerja nyata. Ia menegaskan bahwa nilai yang dibangun akan menjadi dasar utama datangnya hasil termasuk keuntungan finansial.
Dalam proses tersebut, rasa lelah, capek, dan perjuangan tidak boleh langsung diukur dengan uang karena kepuasan pelanggan adalah indikator awal keberhasilan. Ia percaya bahwa ketika orang sudah merasa puas, maka hasil finansial akan mengikuti secara alami.
Yumince juga mengingatkan bahwa ukuran uang memang masih menjadi standar yang digunakan oleh negara dan masyarakat saat ini dalam menilai keberhasilan. Namun demikian, ia mengingatkan agar generasi muda tidak menjadikan uang sebagai tujuan utama dalam bekerja.
“Ketika seseorang bekerja hanya untuk uang, maka ia berpotensi menjadi budak uang dan kehilangan nilai integritas dalam prosesnya. Kalau kita bekerja untuk uang, kita budak uang,” ucap Gembala GMIT Solafide Motamaro - Belu itu.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa mengejar keuntungan semata dapat mendorong seseorang menghalalkan segala cara hingga merusak kualitas produk dan kepercayaan konsumen. Kondisi ini sering terjadi ketika pelaku usaha tergoda memperbesar keuntungan dengan menurunkan kualitas secara perlahan.
Ia mencontohkan bahwa banyak brand yang awalnya baik, namun akhirnya hancur karena kecurangan dan inkonsistensi kualitas yang dirasakan pelanggan. Kepercayaan yang hilang menurutnya sangat sulit untuk dikembalikan meskipun usaha telah dibangun dengan penuh perjuangan.
Sebagai penutup, ia mengutip pemikiran pengusaha Amerika Andrew Carnegie tentang pentingnya memahami pola kesuksesan daripada sekadar memiliki kekayaan sesaat. “Kalau saya hari ini mati dalam kondisi miskin, saya pasti akan sukses lagi karena saya sudah punya polanya,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....