Fenomena Perempuan Berperan Ganda Masih Disepelekan

  • 31 Mar 2026 18:59 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Fenomena perempuan berperan ganda yang masih dipandang sebelah mata menjadi perhatian dalam perbincangan kesetaraan, terutama terkait relasi sejajar tanpa dominasi antara laki-laki dan perempuan.

Informasi ini disampaikan Pdm. Scolastika Peong, S.Th., M.Ag, Pengurus Wanita Bethel Belu, kepada RRI dalam program PUG dan Inklusi RRI Atambua edisi Senin, 30 Maret 2026, sebagai bagian edukasi kesetaraan dan perlindungan perempuan serta anak.

"Ini sebuah kenyataan, bahwa fenomena perempuan tetap disepelekan meskipun memiliki peran ganda merupakan fakta, bukan sekadar mitos," ujarnya.

Kesetaraan yang dimaksud bukan berarti mengunggulkan perempuan, melainkan menghadirkan garis lurus relasi tanpa pihak lebih tinggi atau lebih rendah, sehingga keduanya berjalan beriringan dalam kehidupan sosial.

Flayer Program

"Bahwa perempuan saat ini mampu mengambil berbagai posisi penting, termasuk jabatan dan peran strategis, namun tetap menghadapi kekerasan karena kurangnya saling menghargai dalam relasi rumah tangga," tuturnya.

Menurutnya, kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak semata dipengaruhi faktor ekonomi atau jabatan, melainkan karena tidak adanya kesamaan prinsip hidup serta penghargaan antara pasangan dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya contohkan meskipun perempuan memiliki banyak peran sebagai pekerja, pelayan, dan anggota organisasi, posisi sebagai istri tetap menuntut penghargaan terhadap pasangan sebagai dasar keharmonisan," ucapnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, ia menyoroti bahwa kasus kekerasan lebih banyak ditemukan pada perempuan dari latar belakang pendidikan rendah dan keluarga tidak utuh, yang berdampak pada pola relasi mereka.

Ia menambahkan bahwa kurangnya kasih sayang serta pendidikan keluarga membuat individu membawa ekspektasi berlebihan dalam pernikahan, sehingga ketika tidak terpenuhi dapat memicu konflik hingga kekerasan.

"Sebenarnya pernikahan bukanlah sarana mencari kebahagiaan, melainkan memberi kebahagiaan kepada pasangan, sehingga setiap individu harus terlebih dahulu memiliki kebahagiaan sebelum menikah," kata dia.

Pandangan ini, menurutnya, penting diluruskan karena banyak orang memasuki pernikahan dengan harapan menerima kebahagiaan, padahal relasi sehat dibangun melalui sikap saling melengkapi dan memberi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....