Kalak BPBD Minta Pembangunan Deker Ambruk Gunakan DD

  • 27 Jan 2026 12:31 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Kefamenanu - Kepala badan penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kabupaten TTU, meminta Kepala Desa Oetalus untuk menggunakan dana desa supaya menanggulangi deker penghubung ke SD Negeri Tuamolo yang ambruk akibat banjir. Karena pihaknya baru berkoordinasi dengan Dinas PUPR supaya melakukan pengkajian secepatnya. Hal ini disampaikan oleh Kalak BPBD TTU, Octovianus Nule, saat diwawancarai awak media di ruangannya pada Senin 26 Januari 2026.

Menurut Octovianus, nanti setelah ada hasil kajian baru akan ditentukan apakah kejadian itu diakibatkan oleh faktor alam atau apa. Sedangkan deker tersebut sangat penting untuk akses masyarakat, terutama anak-anak sekolah", ujar Octovianus.

"Dengan menggunakan dana desa, diharapkan deker penghubung itu dapat segera diperbaiki dan masyarakat dapat kembali menggunakan jalur tersebut dengan aman. Karena memang anggaran di BPBD TTU sangat terbatas", kata Octovianus.

Ia melanjutkan bahwa semua bencana yang terjadi di TTU harus dipilah oleh tim siaga bencana supaya masuk dalam keadaan darurat atau tidak. Karena dalam penentuan status bencana alam ada faktor-faktor yang perlu diperhatikan seperti korban jiwa, kerukan alam maupun fasilitas publik supaya dinilai berapa kerugian dari musibah dimaksud.

Sementara Sekretaris Desa Oetalus, Yohanes Tpoy, menyampaikan bahwa ambruknya deker penghubung antara Dusun 2 dan SDN Tuamolo itu sangat menggangu aktivitas anak-anak ke sekolah maupun kegiatan pemerintah. Khusus untuk anak-anak dari RT 01 hingga RT 04 jumlahnya mencapai puluhan anak", ujar Yohanes.

Lebih lanjut Yohanes, mengatakan bahwa saat ini pihaknya bersama Kepala Desa Oetalus sedang memikirkan solusinya seperti apa tetapi tahun 2026 ini fasilitas umum itu harus dibangun. Supaya memudahkan para siswa ke sekolah maupun masyarakat umum ke kebun.

"Pasalnya setelah deker penghubung itu ambruk ke dalam kali, maka anak-anak SD yang baru duduk di kelas 1 itu orangtua mereka harus mengantar dan setelah pulang sekolah juga orangtua mereka jemput. Karena memang kesulitannya ya deker penghubung itu, sebab anak-anak ketika melewati dasar kali maka harus mencopot sepatu mereka dan memakainya kembali setelah menyebrang supaya tidak basah", ujar Yohanes (SK).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....