Kemiskinan Ekstrem Kabuna-Belu Turun Signifikan

  • 31 Jan 2026 13:12 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua — Kemiskinan ekstrem di Desa Kabuna, Kabupaten Belu, menunjukkan penurunan signifikan pasca pandemi Covid-19. Hal ini berdasarkan pemutakhiran data pemerintah Desa dimaksud pada tahun 2025 lalu.

Informasi disampaikan Adrianus Yosep Laka, Kepala Desa Kabuna,Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, kepada rri.co.id, Sabtu 31 Januari 2026, saat ditemui di wilayah Desanya.

“Puncak bantuan itu terjadi saat Covid, ketika itu data kami cukup banyak kemiskinan ekstrim” ujar dia. Dikatakannya saat pandemi Covid-19, jumlah penerima bantuan melonjak hingga 1.200 kepala keluarga akibat kondisi itu,” ucapnya.

Menurutnya saat pendemi COVID 19 berlangsung, setiap tahun pemerintah desa Kabuna harus membayar BLT untuk warga miskin ekstrem dengan nilai mencapai kurang lebih 1,3 miliar rupiah per tahun.

"Tetapi tahun ini, saya belum tahu pasti berapa besar, sebab pagu anggaranya belum sampai. Tapi hitungan-hitungan kami mungkin hanya belasan orang yang masih akan terima bantuan kemiskinan ekstrim," ujarnya.

Dari sana berbagai skema bantuan sosial diterima warganya untuk meningkatkan kemampuan belanja. Namun pasca pandemi, desa melakukan musyawarah dan pemutakhiran DTKS sehingga jumlah keluarga miskin ekstrem turun menjadi sekitar 600 kepala keluarga.

“Kami Desa Kabuna ini salah satu dari empat desa terbesar di Belu, bersama Naikasa, Manleten, dan Desa Tohe. Empat Desa ini memang selalu memecahkan rekor, dana desanya paling besar dan juga warga miskinnya paling banyak,” kata Kades Adrian.

Menurut penyampaian kepala Desa Kabuna dalam penjelasannya, tingginya angka kemiskinan dipengaruhi berbagai faktor. Termasuk keberadaan warga eksodus tahun 1999 yang tidak memiliki lahan produktif.

“Di Kabuna ada warga asli dan saudara-saudara kami yang eksodus waktu tahun 1999 yang hanya punya lahan rumah. Memang kami punya semangat untuk keluar dari kemiskinan ekstrim ini, tapi sebagai petani terkendala lahan olahan produktif ” ujarnya.

Lanjutnya penilaian juga datang dari kondisi permukiman warga wilayahnya yang mungkin menurut pemerintah berjenjang cukup memprihatinkan. Sehingga kenyataan ini turut menyumbang angka kemiskinan ekstrem dalam di wilayahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....