Tunjangan Dosen ASN Picu Sorotan Keadilan

  • 07 Jul 2026 16:45 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Dugaan diskriminasi tunjangan dosen ASN yang tidak menerima tunjangan kinerja selama belasan tahun menjadi sorotan serius dalam dunia pendidikan tinggi nasional. Kondisi ini memicu perdebatan panjang tentang keadilan dan kesejahteraan tenaga pendidik yang dinilai masih bergantung pada tunjangan di luar gaji pokok.

Menanggapi hal itu Yosep Copertino Apaut, SH., MH, Ketua Lembaga Penjamin Mutu Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Cendana Wangi – TTU agkat bicara melalui rri.co.id, Senin 6 Juni 2026. Ia menilai bahwa isu kesejahteraan dosen tidak bisa dilepaskan dari sudut pandang kepuasan individu yang sangat beragam.

Menurut Yosep Copertino Apaut, setiap dosen memiliki standar kepuasan berbeda dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik dan pengabdi masyarakat di lingkungan perguruan tinggi. “Manusia ini, tingkat kepuasannya tentu berbeda, tetapi tentang aspek pelayanan menjadi sesuatu yang mutlak.”

Yosep Apaut menegaskan bahwa profesi dosen sejatinya merupakan bentuk pengabdian setia yang tidak semata-mata diukur dari aspek material semata. “Bagi saya menjadi guru adalah menjadi pengabdian setia, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa kita tetap beli beras pakai uang.”

Dalam praktiknya, Yosep mengakui bahwa beban kerja dosen saat ini masih didominasi oleh tuntutan administratif yang cukup kompleks. Hal tersebut seringkali membuat proses pembuktian kinerja dosen menjadi lebih rumit dibandingkan substansi pengabdian itu sendiri.

Ia menjelaskan bahwa profesionalitas dosen diukur melalui ketercapaian tridharma perguruan tinggi yang harus dibuktikan melalui dokumen administratif yang lengkap. “Dosen hanya akan diukur menjadi profesional manakala ketercapaian dan administrasi dapat menunjukkan pelaksanaan tugasnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yosep menilai bahwa tidak ada konsep bekerja tanpa hasil dalam sistem yang diterapkan negara terhadap aparatur sipil negara termasuk dosen. “Tidak ada yang makan gaji buta, anda hanya akan dibayar dan dilihat oleh negara berdasarkan pencapaianmu.”

Yosep juga menyoroti bahwa negara sebenarnya telah memberikan ruang bagi dosen untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui berbagai mekanisme yang tersedia. Namun, menurutnya, kemampuan memanfaatkan peluang tersebut sangat bergantung pada kesiapan dan strategi masing-masing individu dosen.

Ia menambahkan bahwa dunia pendidikan tinggi menyediakan banyak ruang untuk pengembangan akademik sekaligus pemenuhan kebutuhan ekonomi dosen secara layak. “Banyak ruang yang bisa dipakai oleh dosen untuk memenuhi kepentingannya, bahkan sampai urusan perut dapat terpenuhi,” ujarnya.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya standar tertentu yang dinilai kurang realistis dan justru menambah beban kerja dosen. Standar tersebut menurutnya seringkali mendorong dosen untuk bekerja lebih keras dalam memenuhi tuntutan yang terus berkembang.

Di akhir pernyataannya, Yosep menegaskan pentingnya kampus sebagai ruang lahirnya pemimpin masa depan yang menjunjung tinggi nilai keadilan. Ia berharap lingkungan kampus mampu menjadi contoh nyata dalam menghadirkan keadilan dalam praktik keseharian pendidikan tinggi.

“Karena itu kampus harus menjadi contoh bagaimana keadilan itu diwujudkan dalam kesehariannya,” ucap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....