Mahasiswa KKN Gerakan NTT Sehat di Desa Sallu, Gelar Edukasi Penyuluhan Stunting

  • 14 Agt 2026 09:09 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (GENTASKIN) melaksanakan kegiatan penyuluhan pencegahan stunting serta demonstrasi pembuatan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sehat di Posyandu Anggrek, Dusun B, C dan D Desa Sallu Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara, Kamis 13 Agustus 2026 sebagai langkah nyata menurunkan angka stunting dan mengentaskan kemiskinan ekstrem di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penyuluhan ini dilaksanakan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 (Good Health and Well-being) serta SDGs nomor 4 (Quality Education) melalui peningkatan pengetahuan dan edukasi kesehatan masyarakat. Sasaran utama kegiatan adalah ibu hamil, ibu menyusui, serta orang tua yang memiliki anak balita usia 0–59 bulan.

Dimana dalam pemaparan materi, mahasiswa memberikan edukasi komprehensif mengenai stunting dan pentingnya penerapan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang tepat sesuai usia anak. Materi disampaikan secara komunikatif melalui paparan, diskusi interaktif, serta media visual agar mudah dipahami oleh peserta.

Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKNT GENTASKIN Desa Sallu, Agustinus Longa Tiza,S.Sos.,M.AP menyampaikan kegiatan ini bertujuan menurunkan prevalensi stunting, membantu target pemerintah daerah NTT dalam menekan angka stunting secara nyata dan terukur langsung di tingkat desa yang dimulai dari mengubah pola pikir, menghilangkan stigma malu di kalangan orang tua dan mendorong untuk aktif memeriksa tumbuh kembang anak, dan pemberdayaan berkelanjutan serta meningkatkan kemandirian ibu rumah tangga dalam menyajikan makanan bergizi seimbang tanpa harus bergantung pada produk instan mahal.

Lanjut, Wadek Fisipol Unimor menguraikan berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Indonesia masih menjadi permasalahan serius, khususnya di wilayah pedesaan dengan angka mencapai 21,6%. Sedangkan prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat sebesar 37,0%. Sementara prevalensi stunting Kabupaten TTU 42,70% Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kekurangan gizi kronis, sanitasi yang kurang memadai, serta rendahnya pengetahuan orang tua terkait pemenuhan gizi anak.

“Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan,” ucap Agustinus Longa Tiza.

Kesempatan yang sama, Kepala Desa Sallu, Kristofus Olla, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, secara umum praktik pemberian MPASI di Desa Sallu sudah cukup baik, terutama dalam pemenuhan protein hewani seperti ikan dan telur. Namun, masih terdapat sejumlah kendala, di antaranya kebiasaan anak makan sambil bermain serta pemberian MPASI yang terlalu dini akibat pengaruh pola asuh keluarga. Karena itu, penyuluhan yang dilakukan mahasiswa KKNT GENTASKIN bersama kader Posyandu diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan membuka pola pikir orang tua agar memberikan MPASI sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.

Sementara itu Koordinator mahasiswa KKTN GENTASKIN Desa Sallu, Yolanda M. Nessi mengemukakan bahwa kegiatan penyuluhan dibagi dalam dua tim, kegiatan penyuluhan difokuskan tiga aspek penting

Pertama, Edukasi Stunting, untuk membuka pemahaman orang tua mengenai ciri-ciri, penyebab kekurangan gizi kronis, serta dampak buruk stunting bagi masa depan anak.

Kedua, 1000 Hari Pertama Kehidupan, dengan menekankan pentingnya pemenuhan gizi yang tepat sejak bayi dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun

Ketiga, Praktik Pola Asuh, dengan maksud mengubah perilaku masyarakat terkait kebersihan lingkungan, pemantauan berkala di posyandu, dan pencegahan penyakit infeksi.

Untuk kegiatan Demonstrasi Pengolahan MPASI, diwakili pemateri, Sesilia Dwinofembri Luhi yang menjelaskan mengenai Pemanfaatan Pangan Lokal, ini dilakukan dengan mengedukasi para ibu untuk mengolah bahan pangan lokal yang murah, kaya protein hewani, zat besi, serta vitamin yang mudah didapat di desa sekitar.

Ia menjelaskan tahapan konsistensi makanan anak yang benar yakni dimulai dari bubur saring hingga makanan padat agar nutrisinya terserap optimal serta memaparkan Inovasi Menu Balita, yakni membuat variasi olahan makanan sehat yang menarik bagi anak guna memicu nafsu makan anak-anak.

Sebagai bentuk edukasi berkelanjutan, Desna Sela dan Carolin Leo menyampaikan bahwa peserta dan kader posyandu menerima poster edukasi MPASI dan pencegahan stunting yang berisi informasi ringkas dan mudah dipahami. Poster tersebut dipasang di lokasi posyandu serta dibagikan kepada peserta dalam bentuk cetak maupun digital sebagai media pengingat praktik gizi yang benar.

Melalui penyuluhan ini, peserta dapat memahami dengan baik terkait stunting dan pentingnya penerapan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang tepat sesuai usia anak sebagai langkah nyata dalam menurunkan prevalensi stunting, membantu target pemerintah daerah NTT dalam menekan angka stunting secara nyata dan terukur langsung di tingkat desa.

Adapun Program Mahasiswa berdampak Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) GENTASKIN (Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif) Batch 2 Tahun 2026 merupakan gerakan kolaboratif yang diinisiasi oleh LLDIKTI Wilayah XV untuk menurunkan angka stunting dan mengentaskan kemiskinan ekstrem di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Peserta KKN Tematik Gentaskin berasal dari enam perguruan tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Timor (Unimor), Universitas Citra Bangsa, Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW), STIKOM Uyelindo, dan Universitas Katolik Widya Mandira yang tersebar di 100 desa di NTT dan Desa Sallu sebagai salah satu desa sasaran mendapatkan sebanyak 18 mahasiwa dan KKNT GENTASKIN sendiri telah dilaksanakan secara serempak sejak tanggal 09 Juli hingga 31 Agustus 2026. (KM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....