Kasus Gigitan HPR Tinggi di TTU, Stok VAR Mengalami Kekosongan
- 03 Jul 2026 17:36 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Kefamenanu - Kasus gigitan hewan penular rabies meningkat, tetapi serum anti rabies (SAR) di TTU mengalami kekosongan. Namun Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, memastikan bahwa stok vaksin anti rabies (VAR) untuk penanganan korban gigitan hewan penular rabies (HPR) saat ini tersedia di seluruh puskesmas. Hanya harus diakui serum anti rabies (SAR) hingga kini masih mengalami kekosongan. Hal ini disampaikan oleh Plh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes TTU, drg. Eykman S. Henukh, pada Jumat 3 Juni 2026.
Menurut drg. Eykman bahwa, Dinas Kesehatan TTU, baru menerima sebanyak 1.500 vial vaksin anti rabies (VAR) sekitar dua pekan lalu dari pemerintah pusat. Karena sebelumnya memang sempat terjadi kekosongan stok. Untuk mengatasi kondisi itu kami meminjam vaksin dari Kabupaten Kupang, Belu, dan Malaka, karena stok dari pusat juga sedang kosong", ujar drg. Eykman.
"Setelah menerima 1500 vial vaksin Anti rabies (VAR) maka Dinkes TTU langsung mendistribusikan vaksin tersebut sesuai kebutuhan masing-masing puskesmas melalui Gudang Farmasi Kabupaten TTU. Setiap puskesmas dapat mengajukan permintaan sesuai jumlah kebutuhan pelayanan akan VAR",kata drg Eykman.
Ia membenarkan bahwa, memang pernah terjadi kekosongan VAR, tetapi tidak semua puskesmas mengalami hal yang sama. Sehingga Dinas Kesehatan TTU menerapkan sistem redistribusi antar puskesmas apabila ada fasilitas kesehatan yang kehabisan stok VAR.
"Kalau ada puskesmas yang kosong, kami arahkan mengambil stok dari puskesmas terdekat yang masih tersedia. Jadi pelayanan terhadap korban gigitan hewan penular rabies (HPR) tetap berjalan dan tidak terganggu. Tetapi harus diakui kebutuhan VAR di TTU sangat tinggi. Karena angka kasus gigitan anjing yang terus meningkat, stok 1.500 vial diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan selama sekitar dua hingga tiga bulan ke depan", ujar drg. Eykman.
Bahkan, khusus di wilayah kerja Puskesmas Kota Kefamenanu saja, jumlah kasus gigitan anjing dilaporkan mencapai sekitar 2.000 kasus dalam setahun. Sementara itu, untuk serum anti rabies (SAR) yang digunakan pada kasus gigitan berisiko tinggi, Dinas Kesehatan TTU mengaku hingga kini masih mengalami kekosongan stok (SK).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....