Menjaga Keseimbangan Emosi Hati dan Pikiran saat Puasa

  • 27 Feb 2026 08:09 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian emosi. Dalam psikologi, terdapat konsep Window of Tolerance yang menjadi penentu batas kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan atau stres.

Saat kadar gula darah menurun drastis, jendela toleransi ini cenderung menyempit sehingga kita menjadi lebih mudah merasa marah atau tersinggung. Kesadaran akan kondisi fisik memengaruhi stabilitas mental sangatlah penting agar kita bisa menunda reaksi negatif dan tetap bersikap tenang.

Dari sisi kognitif, teknik reappraisal (penilaian ulang kognitif) dalam Cognitive Behavioral Therapy (CBT) mengajarkan kita untuk menilai ulang setiap kejadian dengan sudut pandang berbeda. Sebagai contoh, kemacetan atau beban kerja yang berat saat berpuasa dapat dipandang sebagai sarana latihan kesabaran alih-alih dianggap sebagai beban semata.

Perubahan cara pandang ini terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres serta menjaga suasana hati agar tetap stabil sepanjang hari. Selain itu, praktik mindfulness seperti mengatur napas secara sadar dapat membantu kita tetap fokus dan terkoneksi dengan momen saat ini.

Menjaga energi mental juga perlu dilakukan dengan cara membatasi paparan terhadap hal-hal negatif yang dapat menguras emosi. Dengan mengelola pikiran dan perasaan secara sadar, ibadah puasa akan bertransformasi menjadi latihan keseimbangan hati dan kesehatan mental.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....