Siswa Lulusan Sekolah Kejuruan Berkompetensi dan Siap Kerja

  • 21 Sep 2026 10:24 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Atambua menegaskan siswa lulusan lembaga itu disiapkan berkompeten sesuai keahlian agar siap kerja. Kompetensi dibangun melalui hard skill dan soft skill. Kepala SMK Negeri 1 Atambua Ferdinandus Luan, SE., M.Pd., menyampaikan hal itu kepada rri.co.id, Senin 21 September 2026. Ia menjelaskan kompetensi tersebut.

“Ada dua kompetensi yang harus dimiliki, yaitu hard skill dan soft skill,” ujar Ferdinandus. Hard skill diperoleh melalui pengetahuan guru, latihan, praktik, dan pembelajaran. Soft skill berasal dari pribadi peserta didik dan terlihat melalui kebiasaan menjalankan tanggung jawab. Disiplin menjadi contoh sederhana melalui kebiasaan datang tepat waktu.

Lanjutnya peserta didik juga harus bertanggung jawab menyelesaikan tugas yang diberikan. “Dikasih tugas harus punya tanggung jawab untuk menyelesaikan dan lain sebagainya.” Ferdinandus menjelaskan kesiapan kerja harus memiliki dasar kemampuan. “Siap kerja tidak hanya sekadar siap,” ucap Ferdinandus. Kesiapan membutuhkan latar belakang yang mendasari kemampuan bekerja.

Menurutnya, siap berkarya berarti peserta didik mampu menghasilkan sesuatu berupa produk maupun jasa. Lulusan SMK juga dapat melanjutkan studi atau memilih berwirausaha sesuai kemampuan. “Karena itu di SMK kita harus banyak untuk praktik. Praktik menjadi bekal pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mengenal kebutuhan industri."

Ferdinandus menyebut praktik industri juga berlangsung melalui kerja sama dengan RRI saat ini. Peserta didik langsung bekerja dan merasakan situasi industri sebenarnya. “Anak-anak praktik itu adalah bekal pembelajaran, di mana anak-anak langsung bekerja di industri. Pengalaman mengajarkan ketepatan waktu dan tuntutan kinerja."

Di lingkungan kerja, peserta didik belajar bahwa ketepatan waktu menjadi bagian penilaian kinerja. Mereka juga memahami pekerjaan dan tanggung jawab dapat memengaruhi keberlanjutan kontrak. “Penilaian mencakup kedisiplinan, kinerja, dan tanggung jawab, kalau kerja masih kontrak, kira-kira kontraknya harus diperpanjang atau tidak, itu mendapat penilaian semua,” ujar Ferdinandus.

Ferdinandus menegaskan praktik memberikan gambaran tentang konsekuensi tugas dan tanggung jawab dunia kerja. Pembelajaran tersebut sudah mulai dibentuk sejak peserta didik berada di sekolah.

Peserta didik belajar tugas yang diberikan harus diselesaikan bertanggung jawab sebagai bagian pembentukan sikap kerja. Pengalaman sekolah menjadi dasar menghadapi tuntutan profesional di industri. “ SMK berbeda dengan SMA, kalau SMA fokus untuk melanjutkan studi,” ucap Ferdinandus. Menurutnya, SMK menyiapkan peserta didik untuk dunia kerja dan studi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....