Perjalanan Kevin Abimanyu Menembus Beasiswa Australia Berbekal Jejak Riset

  • 29 Apr 2026 08:51 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kevin Abimanyu Jatmiko membagikan pengalaman inspiratifnya menembus beasiswa doktoral di University of Sydney Australia melalui jalur internal kampus. Keberhasilan ini bermula dari proses pencarian supervisor yang memiliki minat penelitian sejalan dengan minat risetnya.

"Awal mulanya saya masuk program S3 ini karena menemukan calon supervisor yang sangat cocok dengan minat riset saya," ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa, 28 April 2026. Kevin mengaku sangat tertarik dengan isu pangan lokal, masyarakat adat, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Langkah awal dilakukan Kevin dengan aktif mengikuti berbagai webinar internasional guna menemukan sosok promotor yang tepat bagi studinya. Setelah menemukan kandidatnya, ia segera membangun komunikasi intensif melalui surat elektronik dengan melampirkan proposal riset yang kuat.

"Setelah browsing dan ikut beberapa webinar, saya bertemu dengan Dr. Sophie Chao," ucapnya. "Beliau saat itu berbicara tentang 'gastrokolonialisme' di Papua, ternyata beliau memang menggeluti isu masyarakat adat dan pangan lokal."

Perjalanan jenjang pendidikan tinggi Kevin kali ini diakuinya berbeda dari jurusan sebelumnya. "Saya sebetulnya 'banting setir', background saya sebelumnya adalah Ilmu Hubungan Internasional (HI)," katanya.

Kevin Abimanyu Jatmiko peraih beasiswa doktoral penuh di University of Sydney Australia. (Foto: Kevin Abimanyu Jatmiko)

Titik balik baginya terjadi saat riset program magister atau strata dua (S2) di Larantuka tentang pangan lokal sorghum. "Saat itu sorghumnya digerakkan Mama Maria Loretha, dari situ saya mulai serius mendalami isu pangan lokal," ujar Kevin.

Kevin beralih jurusan dari Hubungan Internasional (HI) ke Antropologi dengan alasan aspek isu pembangunan yang bisa dikaji secara internasional. "Kalau di HI orang mungkin mikirnya cuma soal perang dan perdamaian tapi ada aspek lain yaitu isu pembangunan low politics," ucapnya.

Fakta lain Kevin memilih mendaftar beasiswa ini ternyata berawal dari adanya unsur ketidaksengajaan. Rupanya, Kevin waktu itu sedang mendaftar LPDP dan sudah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari kampus.

"Saat itu saya tinggal mencari pendanaan, di tengah persiapan dokumen LPDP, tiba-tiba saya dapat email dari kampus," katanya. "Email itu menyatakan bahwa saya dinominasikan sebagai penerima beasiswa internal mereka."

Setelah banyak berkonsultasi, akhirnya Kevin memutuskan untuk melepas proses beasiswa LPDP dan mengambil beasiswa dari University of Sydney. Menurutnya, proposal riset menjadi instrumen vital penerimaan beasiswa karena menunjukkan kematangan berpikir serta kontribusi akademik yang akan diberikan.

Beasiswa ini memberikan keuntungan bagi Kevin berupa pembebasan biaya kuliah serta pemberian uang saku untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun demikian, terdapat beberapa komponen biaya seperti tiket pesawat yang harus ditanggung secara mandiri oleh penerima beasiswa tersebut.

Diketahui, Kevin mendapatkan dua beasiswa dari kampusnya. Beasiswa itu adalah University of Sydney International Tuition Fee Scholarship and University of Sydney International Stipend Scholarship.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....