Empat S Pilar Pembentukan Karakter Anak Bangsa

  • 27 Apr 2026 12:12 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Empat S menjadi pilar penting dalam proses Pembangunan karakter anak bangsa yang menempuh pendidikan di Seminari Menengah Lalian Belu-NTT.

Kepada rri.co.id, Senin 27 April 2026, Romo Drs. Hironimus Masu,Pr.,S.Pd, Praeses (Pimpinan) Seminari Menengah Lalian mengatakan “Empat S itu sesuai misi lembaga ini, yaitu santitas, siensi, sanitas, dan sosial.”

Karenanya penanaman karakter positif menjadi perhatian penting lembaga yang dipimpin dirinya secara berkelanjutan dalam membentuk calon imam yang berkualitas dan berintegritas.

SMA Seminari Menengah Lalian merupakan lembaga pendidikan khusus untuk mempersiapkan calon imam bagi Keuskupan Atambua maupun Gereja Universal di masa depan.

Romo Hironimus Masu menjelaskan, bahwa walau tidak semua siswa kelak memenuhi panggilan hidup sebagai imam katolik. “Sebab setelah kelas dua dan tiga, siswa diperkenankan memilih jalur imam projo atau tarekat atau sesuai panggilan hidup mereka.”

“Sehingga dalam kaitan dengan pembentukan karakter, seminari Lalian juga sama dengan SMA lain, berupaya membentuk karakter anak bangsa kita,” ujarnya.

Sebagai sekolah berasrama, pembentukan karakter dilakukan melalui dua jalur utama, yakni di ruang kelas bersama guru dan kehidupan asrama bersama imam pembina.

“Pembentukan karakter itu berjalan dengan empat S sesuai misi sekolah, yaitu santitas, siensi, sanitas, dan sosial,” tutur Romo Hironimus.

Dalam aspek santitas, kehidupan rohani dibentuk melalui pembiasaan di kelas dan pendampingan intensif di asrama oleh para imam dan frater pembina.

“Untuk kehidupan rohani, itu ditanamkan oleh para pembina yang terbagi dalam tim sesuai jenjang kelas masing-masing,” katanya menegaskan.

Sementara aspek siensi difokuskan pada kegiatan akademik seperti SMA umum, dengan tambahan pelajaran khas seminari seperti bahasa Latin, Kitab Suci, sejarah Gereja, dan liturgi.

Pada aspek sanitas, seminari menciptakan lingkungan sehat secara fisik maupun psikologis, sehingga siswa merasa nyaman seperti berada di rumah sendiri.

“Ini mencakup kesehatan fisik, jiwa, dan psikologis, supaya anak hidup nyaman dalam kebersamaan di lingkungan seminari,” ucapnya.

Aspek terakhir adalah kehidupan sosial, di mana siswa dilatih berinteraksi dan bersosialisasi secara luas, termasuk dengan masyarakat lintas agama.

“Bagaimana dia bisa bersosialisasi dengan masyarakat luas, sehingga ketika terjun ke masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam kehidupan sosial,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....