Google ada di Genggaman, Kenapa Masih ada yang Datang ke Perpustakaan?
- 29 Sep 2026 20:57 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Di zaman ketika hampir semua jawaban bisa kita temukan dalam hitungan detik, mungkin yang semakin langka bukan informasi, melainkan kemauan untuk benar-benar mencarinya.
Menurut Kabid Layanan dan Kerja Sama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belu, Frans Ferdinand yang ditemui rri.co.id beberapa waktu lalu mengatakan jumlah pengunjung memang belum mengalami lonjakan yang signifikan. namun tetap ada. "Pengunjung mulai ramai sekitar pukul 11.00 wita hingga sore hari. Mayoritas adalah anak sekolah yang datang untuk membaca, mengerjakan tugas atau mencari informasi."
Kalau ingin tahu sesuatu hari ini, kita mungkin tidak akan langsung mencari rak buku. Kita mengambil ponsel, membuka Google, mengetik beberapa kata atau bertanya kepada AI.
Jawaban bisa muncu dalam hitungan detik. Praktis, cepat, dan nyaris tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Lalu di tengah dunia yang serba instan itu, untuk apa kita masih datang ke perpustakaan?
Pertanyaan itu terasa menarik ketika hari Kunjungan Perpustakaan diperingati setiap 14 September. Sebab, mungkin perpustakaan hari ini tidak lagi sekedar tempat untuk mencari buku. Ia sedang mencari cara untuk tetap menjadi tempat yang dibutuhkan ketika hampir semua informasi sudah bisa ditemukan di layar.
Perpusatakaan Daerah Belu ternyata juga menyediakan Pojok Baca Digital (Pocadi) yang turut meningkatkan jumlah pengunjung. hal ini dikarenakan bisa memudahkan anak-anak sekolah mengerjakan tugas melakukan penelusuran informasi secara digital, hingga mencari informasi mengenai pendidikan dan perkuliahan.
Di titik ini, perpustakaan ternyata tidak sedang berusaha mengalahkan internet. Perpustakaan justru membawa internet masuk kedalam ruangnya. Artinya, perpustakaan hari ini tidak sederhana gambaran yang mungkin ada di kepala kita: ruangan suyi, rak-rak tinggi, dan seseorang yang membaca buku sendirian.
Inilah satu hal yang menarik. Di tengah fasilitas digital tersebut, buku fisik ternyata belum kehilangan tempatnya. Frekuensi peminjaman buku masih relatif stabil. Dan sebagian besar pemimjamnya justru anak-anak.
Google bisa membantu kita menemukan informasi. AI bisa membantu menjelaskan sesuatu. media sosial bisa membuat kita mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan. Namun perpustakaan menawarkan pengalaman yang sedikit berbeda, kesempatan untuk datang, mencari, membaca dan menemukan sesuatu secara lebih perlahan. Dan mungkin justru di tengah kehidupan yang semakin cepat, hal seperti itu semakin berharga.
Ternyata mempertahankan keberadaan perpustakaan juga ada tantangan tersendiri. Menurut Frans Ferdinand, salah satu tantangan terbesar adalah bagimana meningkatkan jumlah kunjungan. Sebab, menyediakan koleksi dan fasilitas saja belum tentu membuat orang datang.
Perpustakaan perlu punya alasan lain untuk dikunjungi. "Perpustakaan Daerah Belu ini juga aktif mengadakan kegiatan yang dekat dengan anak-anak, misalkan Lomba Bertutur antar Sekolah dan Festival Literasi yang akan digelar Oktober nanti. Juga dengan Pocadi yang menunjukkan bahwa teknologi dan buku tidak harus saling menggantikan," kata Frans
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....