Berlari di Ujung Negeri, Merasakan Indonesia dari Piebulak
- 20 Agt 2026 20:58 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, ATAMBUA- Kemerdekaan ternyata bisa dirayakan dengan cara yang tidak selalu serius. Bisa dengan sepatu lari, keringat, tanjakan dan pemandangan yang bikin lupa kalau kaki mulai pegal. Itulah yang terasa di Piebulak Border Run 8,1K yang digelar Sabtu, 15 Agustus 2026.
Mengusung tema “Run the Border, Feel the Beauty”, event ini mengajak peserta menyusuri jalan sabuk merah di kawasan perbatasan RI-RDTL, kecamatan Lamaknen Selatan, kabupaten Belu. Angka 8,1 kilometer tentu bukan sekedar angka.
Jarak tersebut dipilih untuk memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia. Namun, setelah peserta melewati seluruh rute, rasanya 8,1 kilometer justru menjadi jauh lebih bermakna dari sekedar simbol usia kemerdekaan.
Salah satu peserta, Arfan, bahkan rela datang dari kabupaten Kupang ke Atambua khusus untuk mengikuti event ini. Alasannya sederhana, “penasaran”.
Ia ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya berlari di kawasan perbatasan dengan rute yang penuh tanjakan, sesuatu yang menurutnya belum pernah ia coba sebelumnya. “Terasa menyenangkan karena anak-anak di sekitar rute ikut lari dan memberikan semangat untuk kita.”

Dari garis strat sampai balik lagi ke finish, pemandangan alamnya benar-benar memanjakan mata, suasana perbatasannya terasa banget dan udaranya seger,” kata Arfan. Jadi kalau biasanya lari identik dengan pace, kilometer dan finish time tetapi Piebulak menawarkan sesuatu yang lain yaitu pengalaman.
Sementara itu dari menurut salah seorang panitia Marchus Ali, memilih Piebulak sebagai Lokasi bukan tanpa alasan. “Jalur Piebulak memiliki pemandangan alam yang menjadi salah satu daya tarik wisata Lamaknen Selatan.”
Karena itu, event ini dirancang bukan hanya untuk mengajak masyarakat berolahraga, tetapi juga memperkenalkan potensi daerah. “Ada kesenian lokal yang ditampilkan, ada hasil alam seperti kopi Lakmaras yang diperkenalkan, dan ada masyarakat yang ikut ambil bagian dalam kegiatannya,” Kata Ali selaku Panitia.

Lanjut Ali, artinya peserta yang datang ke Piebulak tidak hanya mendapatkan rute lari. Peserta juga mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana kehidupan, budaya, dan potensi masyarakat di wilayah perbatasan.
Sementara bagi Masyarakat Lamaknen Selatan, kehadiran para pelari menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa wilayah perbatasan punya cerita yang jauh lebih luas dari sekedar letaknya di ujung Indonesia. Pada akhirnya Piebulak Border Run bukan cuma tentang mencapai garis finish.
Di jalan sabuk merah itu, setiap orang punya alasan masing-masing untuk melangkah. Ada peserta yang datang membawa rasa penasaran, masyarakat yang membawa keramahan, anak-anak yang membawa semangat dan sebuah daerah yang membawa keindahan sendiri.

Mungkin itulah makna “Run the Border, Feel the Beauty”. Sebab terkadang, untuk mengenal Indonesia lebih dekat, kita tidak perlu hanya melihatnya dari layar atau peta, tetapi cukup datang, memakai sepatu lalu berlari sejauh 8,1 kilometer untuk merasakannya sendiri. (FIF)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....