Suara Dari Ujung Negeri, Menjemput Asa di Fohomane

  • 24 Jul 2026 18:06 WIB
  •  Atambua

RRI. CO.ID, Atambua - Di tempat di mana garis peta bertemu dengan sunyi hutan, tepatnya di Desa Lakanmau, ada detak jantung yang tak pernah berhenti berdegup. SDN fohomane, sebuah sekolah kecil yang berdiri gagah di perbatasan. Tempat di mana batas negara bukan berarti batas mimpi.

Di balik seragam yang sedikit kusam dan debu jalanan yang menempel, tersimpan mimpi-mimpi besar yang terus tumbuh subur di benak mereka. Inilah kisah dari anak-anak hebat dengan harapan sederhana namun penuh makna, seperti diungkapkan Alexander Valokase, siswa kelas V SDN Fohomane kepada rri.co.id.

"Saya ke sekolah saya jalan kaki karena rumah jauh, saya senang jalan kaki ke sekolah sudah biasa. saya senang pelajaran matematika karena suka mencakar dan cita-cita saya mau jadi guru matematika," kata Rivaldo.

Alexander Rivaldo kase- Siswa SDN Fohomane Desa Lakanmau Kecamatan Lasiolat Kabupaten Belu Kabupaten Belu

Lain ceritanya dengan Alisa Valencia, siswi kelas IV SDN Fohamane yang bercita-cita ingin menjadi suster, ia sangat senang ke sekolah karena di sekolah ada tempat doa. "Pagi-pagi bangun berdoa, baru kesekolah, walaupun jalan kaki tetap semangat ke sekolah, kami harap SDN Fohomane maju, siswanya menjadi banyak dan kelas semakin gagah dan kami bisa mendapatkan MBG," kata Alisa dengan penuh harapan.

Alisa Valencia Siswi kelas IV SDN Fohomane Desa Lakanmau Kecamatan Lasiolat Kabupaten Belu

Tawa dan cita-cita anak-anak ini tentu tak lepas dari sosok guru yang terus berdedikasi menjaga api semangat di sekolah ini. Lantas, bagaimana sebenarnya tantangan dan kebahagiaan saat mengajar di garis perbatasan. Berikut penuturan guru Yefti Tali Laiskodat yang sudah sejak tahun 2017 mengabdi di SDN Fohomane.

"Dari 7 tahun ini momen paling berkesan itu sebagai guru di SMA ini kita benar-benar dibutuhkan di kelas. Saat kita menyampaikan pelajaran kita seperti benar-benar diperhatikan."

Menurut Yefti, SDN Fohomane punya kelebihan karena berada di ketinggian jadi butuh perjuangan yang luar biasa untuk sampai di sekolah. "Saya seorang pendatang bukan asli orang Belu, saya benar-benar belajar budaya dan memahami anak-anak."

Banyak hal baru yang didapati saat mengajar di SDN Fohomane, anak-anak hampir tidak pernah mengeluh akan keadaan mereka. "Pas lihat kita, mereka bukannya ibu saya capek, saya minta tumpangan, tidak, malah mereka berlari lebih kencang untuk biar lebih cepat sampai begitu," cerita Yefti dengan semangat

Walaupun akses ke sekolah terbatas dan sarana prasaran juga terbatas tidak seperti di sekolah-sekolah di kota, tetapi anak-anak di SDN Fohomane tetap semangat bersekolah.

dari cerita ibu Yefti, anak-anak kadang kesekolah sambil berjualan, ada juga yang membawa adik ke sekolah karena orang tua sedang bekerja. "Mereka kadang ada yang ke sekolah sambil jualan, ada yang ke sekolah sambil bawa adiknya., Saya tanya, kenapa bawa adik ke sekolah?, Mama-mama ke pasar tidak ada yang jaga adik di rumah, mereka lebih memilih dari pada mereka di rumah dan jaga adik, mending mereka bawa adiknya ikut ke sekolah."

Yefti Tali Laiskodat-Guru SDN Fohomane

Dedikasi guru adalah pondasi, namun arah sekolah ini tentu tak lepas dari sosok nahkoda yang memimpin di garis depan. Kepala sekolah, Robinson Alberto Uju, SPDGR melihat lebih dalam bagaimana visi sekolah ini dirancang agar mimpi anak-anak Fohomane tetap tegak meski di tengah segala keterbatasan dengan slogan "walau dibatas tapi mimpi mereka tidak terbatas malah menembus batas".

"Saya sebagai Plt Kepala Sekolah SD Negeri Fohomane, 30 hari pertama ya saya bekerja itu sudah banyak inovasi yang saya buat, di antaranya saya memulai dengan bagaimana mengangkat ee sekolah ini ke permukaan. Jadi awalnya saya mulai mengisi mereka istilahnya saya sedikit cuci otak untuk bagaimana bisa mereka membaca dengan cepat ya berliterasi dengan baik."

Robinson Alberto Uju, SPDGR , Plt. Kepala sekolah SDN Fohomane Kabupaten Belu

Dari hasil yang dibangun sebagai kepala sekolah mendapatkan nilai tersendiri ketika mengikuti lomba tantangan membaca dari Bupati Belu mendapat juara 1, 2 dan 3 untuk tingkat Kecamatan. "Untuk anak-anak sendiri itu bagaimana kami dari sekolah dalam hal ini kepala sekolah dan guru bisa memp-push mereka supaya mereka tuh juga punya kesempatan untuk bagaimana mengekspos diri, mengeksplore pengetahuan di luar sana untuk bagaimana mereka mewujudkan cita-cita mereka," kata Robi panggilan akrapnya.

Bagi anak-anak Lakan mau, jarak bukan penghalang dan minimnya fasilitas bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Dari mereka telah mengajarkan kepada kita bahwa meski kaki mereka berpijak di garis batas negara, pikiran dan cita-cita mereka tidak mengenal batas yang sama.

Mereka adalah bukti hidup bahwa pendidikan adalah kompas terkuat untuk menembus segala keterbatasan. Dengan harapan terbesar anak-anak SDH Fohamane akan punya nama di NTT

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....