Kisah Kelam Menjadikan Nama Dandim TTU Sebagai Prasasti Hidup Bagi Warga Kiuola
- 08 Jun 2026 05:29 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Kefamenanu - Kisah kelam dan air mata harus dialami warga Desa Kiuola karena kehilangan orang-orang tercinta yang hanyut terbawa banjir dan meninggal akibat tidak adanya jembatan permanen atau jembatan gantung. Tepatnya pada 26 tahun lalu saat tanggal 31 Desember tahun 2010 harusnya orang-orang berkumpul menikmati berbagai jenis kue tahun baru, berdoa melepas tahun lama dan menyambut tahun baru.
Tetapi aroma kue Natal, tahun baru, dentuman kembang api dan kerlap-kerlip pohon natal saat itu berubah menjadi aroma rampe dan tangisan keluarga. Karena Yakobus Knaufmone, harus meregang nyawa setelah hanyut terbawa arus kali Noemuti saat menyebrang menjemput sang anak untuk merayakan tahun baru yang tidak kesampaian. Kisah ini diceritakan oleh, Fransiskus Satban, Ketua RW 02 Desa Kiuola, Kecamatan Noemuti Kabupaten TTU saat ditemui RRI.CO.ID di kediamannya pada Jumat 5 Juni 2026.
Menurut Fransiskus bahwa, ada korban jiwa lainnya yang juga terbawa banjir pada tahun 2010 yakni Baltasar Laot dan seorang siswa SMA dari kampung tetangga yang tidak mereka ketahui. Korban jiwa akibat banjir juga dialami oleh Tius Manuinmetan. Para korban itu, ketika keluar dari kampung lama tidak tahu kalau ada banjir dan setelah sampai di tengah kali mereka tiba-tiba tersapu banjir sehingga tidak bisa menyelamatkan diri.
Selain korban jiwa, anak-anak di Dusun 2 maupun dusun 3 Desa Kiuola yang jumlahnya ratusan anak setiap musim penghujan mereka terpaksa meliburkan diri hingga 1-2 Minggu karena banjir dan tidak ada jembatan maupun jalan alternatif. Bahkan masyarakat juga merugi akibat padi yang sudah dipanen sebanyak 200 karung hanyut terbawa banjir yang datang pada malam hari yang gelap.
Sehingga saat program strategis Presiden Prabowo, membangun jembatan Perintis Garuda di Kiuola yang dikerjakan oleh Kodim 1618/TTU dibawah Komando Letkol Arm Didit Prasetyo Purwanto, S.E maka itu membawa pengharapan yang begitu besar bagi masyarakat Kiuola yang berada di kampung lama", kata Fransiskus.
Nanti setelah jembatan perintis ini selesai dan diresmikan, maka jembatan tersebut akan mengakhiri 80 Tahun penderitaan masyarakat Kiuola. Pasalnya selama puluhan tahun warga sering terjebak banjir Kali Noemuti. Bahkan banyak warga yang sakit tidak sempat ke Rumah Sakit karena tidak ada akses. Sehingga jembatan Perintis Garuda ini jawaban dari 80 tahun doa warga.
Di tengah kisah kelam itu, Fransiskus terlihat muram. Karena Ketua RW 2 Desa Kiuola itu juga telah mendengar bahwa Dandim 1618/TTU, Letkol Arm Prasetyo akan pindah tugas ke Kupang walaupun jembatan perintis itu belum diresmikan.
"Kami masyarakat Desa Kiuola akan mengenang dan menjadikan Jembatan Perintis ini sebagai Monumen untuk Dandim TTU. Jembatan tersebut akan jadi “batu prasasti” untuk mantan Dandim 1618/TTU yang inisiasi dan kawal pembangunannya sebelum pindah tugas ke Kupang. Nama beliau mungkin tidak terpampang besar, tapi setiap motor atau pejalan kaki yang melintas maka warga Kiuola pasti menyebut kebaikannya",ujar Fransiskus.
Ia menambahkan bahwa setelah selesai pembangunan jembatan perintis itu maka dampaknya bagi mereka langsung terasa. Karena warga akan berjalan dengan aman melintas di atas banjir yang mengisolasi mereka selama 80 tahun. Ke depan warga kampung lama tidak terisolasi lagi dan anak-anak sekolah juga tidak perlu meliburkan diri saat banjir.
Bahkan saat orang sakit, maka ambulance tinggal menunggu di ujung jembatan dan bisa membawa yang sakit secepatnya ke puskesmas ataupun RSUD Kefamenanu. Bahkan korban jiwa akibat banjir tidak akan ada lagi karena wilayah mereka telah terbebas dari isolasi banjir (SK).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....