Satu Negeri, Beragam Wajah: Potret Pendidikan di Indonesia
- 13 Mei 2026 14:00 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Pendidikan sering disebut sebagai jembatan menuju masa depan. Namun, bagaimana jika setiap orang harus menyeberangi jembatan yang berbeda?
Ada yang melangkah di jembatan kokoh dan terang, ada pula yang harus meniti jembatan sempit dengan penerangan seadanya. Keduanya sama-sama berjalan, sama-sama ingin sampai, tetapi pengalaman yang dilalui jelas tidak serupa.
Di Jakarta, pengalaman belajar dirasakan oleh seorang guru Coding di Coding Next, Friska Hermalia Putri. Friska menggambarkan bagaimana lingkungan yang mendukung dapat membentuk proses belajar optimal.
Menurutnya, kelas berjalan dengan suasana yang aktif dan interaktif. "Siswa tidak hanya mendengarkan tetapi juga terlibat aktif, bertanya dan mencoba," kata Friska.
Fasilitas yang tersedia memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi mereka. Seperti fasilitas laboratorium komputer, jaringan internet yang stabil hingga ruang kelas yang nyaman.
Teknologi bukan lagi sesuatu yang asing, melainkan bagian dari keseharian. Hal ini membuat proses belajar terasa lebih dekat, relevan dan menyenangkan.
Di sisi lain, realitas yang dihadapi Yanuarius Talok, S.Pd di Tasifeto Timur, Kabupaten Belu menunjukkan wajah pendidikan berbeda. Tantangan yang dihadapi bukanlah soal kemauan belajar, melainkan pada dasar yang belum sepenuhnya terbentuk.
"Saya ingin siswa saya bisa menggunakan bahasa Inggris dalam hal sederhana seperti memperkenalkan diri, berdoa dan menulis pendek," kata Ketua PGRI Kabupaten Belu ini. "Banyak siswa masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Inggris."
Yanuarius mengaku dalam keseharian siswanya lebih terbiasa menggunakan bahasa ibu. Minimnya paparan terhadap bahasa lain membuat proses belajar menjadi lebih panjang dan membutuhkan kesabaran ekstra.
Pandangan yang lebih luas disampaikan oleh Bayu Rachman, lulusan Magister Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta. Ia telah beberapa kali mengabdi di daerah terpencil seperti Lombok, Pesisir selatan dan Maninjau.
Bayu menemukan hal yang sangat berharga yaitu semangat belajar siswa yang tinggi. "Keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga motivasi dan kemauan dari dalam diri mereka sendiri," ucapnya.
Dari ketiga sudut pandang ini terlihat jelas bahwa pendidikan di Indonesia memiliki wajah yang beragam. Ada yang melangkah dengan dukungan fasilitas lengkap, ada pula yang berjalan dengan keterbatasan.
Namun, perbedaan tersebut tidak selalu berarti ketimpangan yang melemahkan. Justru di dalamnya kita dapat melihat potensi yang saling melengkapi.
Di satu sisi kemajuan teknologi membuka peluar besar bagi ekspolarasi dan inovasi. Di sisi lain, keterbatasan melahirkan ketangguhan, kreativitas dan daya juang yang luar biasa.
Pada akhirnya kita memang belajar di dunia yang berbeda. Namun, perbedaan itu bukan untuk dibandingkan secara mutlak melainkan untuk dipahami dan dijembatani.
Pendidikan bukan sekedar soal siapa yang lebih unggul. Tetapi, tentang bagaimana setiap individu diberi ruang untuk tumbuh sesuai dengan kondisinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....