Mimpi Anak Desa Teba : Dari Kefamenanu menuju London
- 06 Mei 2026 12:19 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Kefamenanu - Namanya Jose Fulgencio Amuna kesehariannya dipanggil Jensi, 15 tahun. Rumahnya di Oenopu Desa Teba Kecamatan Biboki Tanpah, Kabupaten TTU. Sinyal kadang ada, kadang hilang dan paket data masih menjadi barang mewah yang sulit digapainya. Tapi mimpi Jensi tidak pernah surut: dia ingin keliling dunia dan menyusul pamannya yang bekerja di London dan telah menjadi warga negara, Inggris.
Belajar dari film kartun dan ibu sebagai Kamus Gratis.
Jensi kecil sebelum lancar berbicara saat usia 4 tahun mulai mengenal bahasa Inggris dari ibunya yang merupakan guru bahasa Inggris. Jadi ia belum bisa mengeja atau membaca tetapi ia diperbiasakan. Karena itu, sang ibu mendownload film kartun berbahasa Inggris dengan durasi panjang, sehingga ketika ia meminta untuk menonton maka kartun berbahasa Inggris itulah yang disodorkan dengan tujuan Jensi bisa menangkap dan akhirnya ia terpola dengan bahasa Inggris yang ia nonton.
Dari film kartun berbahasa Inggris yang ditonton, Jensi tidak memahami subtitle nya tetapi ia mampu menangkap secara baik sehingga bisa berbicara bahasa Inggris tanpa grammar atau berbagai tenses bahasa negeri Ratu Elizabeth ini.
Inilah yang diabadikan RRI.CO.ID saat Bupati TTU, Yosep Falentinus Dellasale Kebo, mengunjungi Stand MKKS Kecamatan Biboki pada rangkaian kegiatan Hardiknas di alun-alun kantor Bupati pada Sabtu 2 Mei 2026. Jensi sangat fasih berbahasa Inggris dan percaya diri berkomunikasi dengan Bupati TTU serta mempersilahkan sang kepala Daerah untuk mencicipi pangan lokal yang disediakan pada Stand tersebut.
Saat berkomunikasi dengan Bupati Falent, beberapa penggal kalimat yang terucap dari mulut Jensi adalah If you like all the traditional food, you can eat for free. Kemudian ditimpali Bupati Falent dengan ucapan Thank You. Kemudian Bupati bertanya kepada Jensi dan sang adik Jorge"how long will you learn English? Lalu Jensi membalasnya dengan berucap "We are learning English when we were babies by watching some English movies.
Saat berbincang dengan RRI.CO.ID, Jensi kembali mengenang kisah proses awal saat masih bayi, ia dan adiknya belajar dari film kartun berbahasa Inggris yang didownload Alriyanti C. Rodrigues, sang ibu di handphonenya. Sehingga dalam keseharian ia menonton, mendengar percakapan dari film dan mulai ada ketertarikan terhadap Bahasa Inggris.
Setelah menginjak bangku sekolah dasar, Jensi terus mengasah kemampuan bahasa Inggris nya dengan berkomunikasi dengan sang ibu. Kemudian saat SMP, ia juga berkomunikasi bersama para guru terutama guru bahasa Inggris SMP Negeri Oenupu supaya terarah. Saat pelajaran bahasa Inggris, ia juga diminta sebagai penerjemah bagi teman sebaya sehingga mempermudah temanya dan pembelajaran juga berjalan lancar.
Dalam komunikasi sehari-hari dengan teman sekolah rupanya sangat terbatas. Karena kebanyakan teman-temannya tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris seperti dirinya. Ia berencana melanjutkan pendidikan jenjang SMA di SMA Negeri Oenopu karena ibunya mengajar di sekolah tersebut dan lokasi berdekatan dengan rumahnya.
"Namun saat kuliah saya maunya di Universitas Negeri yang ada di Kupang sehingga makin terasa kemampuan berbahasa Inggris. Sebab mimpi terbesar saya adalah berkeliling dunia mengikuti paman Adriano Caniago Rodrigues, saudara dari mama yang saat ini berdomisili di kota London dan sudah menjadi warga negara Inggris", ujar Jensi penuh keyakinan.
Jensi memotivasi dirinya dengan berkata batas negara boleh jadi pagar, tapi mimpi tidak boleh dipagari. Film bahasa Inggris hasil download dari Alriyanti C. Rodrigues, sang ibu, dan tekad kuat sudah cukup jadi paspor pertama. Siapa tahu, beberapa tahun lagi, kita dengar kabar ada pemuda dari TTU yang memandu turis di Kota London, dengan logat Timor yang kental tapi bahasa Inggris yang lancar. "Selamat Hari Pendidikan Nasional. Karena pendidikan adalah tiket terbaik untuk keliling dunia", ujar Jensi.
Terpisah ayah Jensi, Yulianus Sikone, merupakan Jurnalis Kompas TV sangat mendukung pendidikan putranya. Sehingga setelah Jensi menamatkan pendidikan SMA ia berencana sang putra harus melanjutkan pendidikan di Universitas Nusa Cendana dengan jurusan kedokteran.
"Nanti setelah lulus kedokteran dari Undana kemudian Jensi kalau bisa memperoleh beasiswa LPDP yang merupakan program bantuan pendanaan studi S2/S3 di dalam atau luar negeri dari Kemenkeu maka ia bisa ke sana. Karena Beasiswa ini mencakup komponen penuh (dana pendidikan, biaya hidup, tiket, visa, asuransi) Karena kita orangtua sangat terbatas soal ekonomi, sehingga beasiswa yang bisa mewujudkan impian tersebut", ujar Yulius(SK).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....