Financial Enmeshment, saat Batas Keuangan antara Orang Tua dan Anak Menjadi Kabur

  • 28 Apr 2026 15:01 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Pernah merasa nggak enak hati setiap kali mau menabung buat diri sendiri karena kepikiran cicilan orang tua yang nggak ada habisnya? Bisa jadi itu bukan sekadar bentuk bakti, melainkan tanda kalau kamu terjebak dalam "financial enmeshment" yang bikin batas privasi keuanganmu jadi kabur.

Financial enmeshment sendiri adalah kondisi psikologis dan finansial di mana batasan antara orang tua dan anak menjadi kabur sehingga anak dibebani tanggung jawab keuangan yang seharusnya dipikul orang dewasa. Fenomena ini sering kali dimulai dengan dalih keterbukaan informasi, namun berujung pada eksploitasi emosional yang memaksa anak merasa bertanggung jawab atas stabilitas ekonomi orang tuanya.

Situasi ini biasanya ditandai dengan orang tua yang secara rutin mengeluhkan masalah utang atau kesulitan biaya hidup kepada anak yang masih di bawah umur atau belum mandiri. Akibatnya, anak kehilangan rasa aman karena mereka dipaksa memikirkan solusi finansial yang melampaui kapasitas usia dan pemahaman emosional mereka.

Dampak jangka panjang dari keterikatan ini adalah munculnya rasa bersalah yang kronis pada anak saat mereka mencoba membangun kemandirian finansial sendiri di masa depan. Mereka mungkin merasa egois jika menabung untuk kebutuhan pribadi, karena merasa "berutang budi" atau terbebani untuk terus menyelamatkan kondisi keuangan keluarga yang kacau.

Gara-gara financial enmeshment, anak jadi susah punya tabungan atau dana darurat karena uangnya habis terus buat bantu orang tua, sampai akhirnya terjebak susah keuangan yang nggak ada habisnya. Karena fokusnya cuma buat "nyelamatin" keluarga, mereka jadi nggak bisa mikirin rencana keuangan yang sehat buat masa depan sendiri.

Untuk memutus rantai ini, diperlukan penetapan batasan atau boundaries yang tegas serta kesadaran bahwa bantuan finansial kepada keluarga tidak boleh mengorbankan kesejahteraan dasar anak. Komunikasi yang sehat harus dikembalikan pada fungsinya, di mana orang tua berperan sebagai pelindung ekonomi dan bukan menempatkan anak sebagai penopang utama beban finansial keluarga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....