Filosofi Belis Belu: Antara Penghormatan Adat dan Tantangan Ekonomi

  • 28 Apr 2026 09:40 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Di tengah riuh rendah deru pembangunan tahun 2026, sebuah diskursus lama kembali menyeruak di tanah Belu. Saat inflasi merangkak naik dan harga kebutuhan pokok kian mencekik, tradisi "Belis" dipandang dengan kerutan dahi oleh pemuda.

Bukan mereka lupa akan akar budaya, melainkan angka-angka yang menyertai sering kali dirasa menjadi tembok besar menuju pelaminan. Bagi masyarakat Belu, Belis adalah simbol penghormatan, sebuah tanda bahwa seorang perempuan begitu berharga.

Pius Fahik, seorang budayawan Belu, menangkap keresahan ini dengan jernih melalui pengamatan realita di lapangan yang berkata lain. Menurutnya, kegelisahan yang muncul belakangan ini terjadi karena adanya pergeseran cara pandang mengenai cara penyerahan belis itu sendiri.

Bukan Jual Beli, Melainkan Penghormatan

Pius Fahik menegaskan bahwa Belis pada hakikatnya tidak bisa dihilangkan dari nadi masyarakat Belu. Baginya, Belis adalah harga diri dan bentuk apresiasi tertinggi terhadap perempuan dan keluarganya.

"Memang banyak yang merasa ini membebani ekonomi, apalagi di zaman sekarang yang serba sulit," ujar Pius. "Tetapi di satu sisi, belis tidak bisa dihilangkan dan bukan soal jual beli, tetapi soal penghargaan."

Masalah muncul ketika sistem "borong" mulai menggantikan tradisi lama. Pius mengamati, saat ini banyak keluarga mematok nominal besar untuk diselesaikan satu waktu, dari tahapan awal hingga akhir.

Hal inilah yang kemudian menciptakan beban psikologis bagi calon pengantin laki-laki. "Akhirnya di benak laki-laki muncul pikiran, 'aduh mahal', padahal jika mengikuti tahapan yang sebenarnya, tidak seperti itu", katanya.

Dampak Psikologis bagi Sang "Ana Nona"

Beban ini ternyata tidak hanya dipikul oleh pihak laki-laki. Para perempuan Belu, atau yang akrab disapa "Ana Nona", kerap menjadi korban perasaan dalam pusara angka-angka ini.

Muncul perasaan rendah diri, merasa diri menjadi beban atau bahan objek yang "dibeli". Pius mencermati fenomena menyedihkan ketika laki-laki memilih mundur teratur sebelum melangkah lebih jauh hanya karena mendengar besaran Belis.

Dampaknya bisa fatal, mulai dari pilihan untuk tidak menikah hingga jalan pintas yang melabrak norma. "Jumlah nona semakin banyak semantara laki-laki meninggalkan mereka karena takut belis, akhirnya diambil jalan pintas seperti hamil di luar nikah," ucap Pius.

"Secara psikologis, anak perempan merasa harga belis mereka terllau tinggi hingga orang menjauhi mereka," katanya dengan nada prihatin. Selain itu, belis yang dibayar kontan dalam jumlah besar di awal sering kali menjadi "senjata" dalam rumah tangga.

"Ada yang terjadi sekarang, saat anak perempuan ingin berkunjung ke rumah orang tuanya, sang suami melarang," kata Pius Fahik. "Dengan dalih, 'Kau tidak boleh pergi, Belismu itu terlalu mahal', akhirnya istri justru dianggap sebagai pembantu"

Kembali ke Sistem "Pikul di Bahu"

Sebagai solusi, Pius Fahik mengajak masyarakat kembali ke sistem Belis masa lampau yang lebih manusiawi dan mengedepankan kekerabatan. Rahasianya terletak pada tahapan.

Dahulu, meskipun jumlah belis mungkin terlihat banyak, misalnya 40 ekor sapi, pihak laki-laki tidak akan lari. Hal ini dikarenakan belis tidak dituntut untuk tunai seketika.

Ada filosofi "junjung di kepala, pikul di bahu" artinya ada itu dihormati, namun dijalankan sesuai kemampuan secara bertahap. "Orang tua dulu itu beranggapan kalau langsung tunai, keharmonisan hubungan kekerabatan antara dua suku justru akan berkurang," kata Pius.

"Tetapi kalau ada tahapan–ada saatnya kita taruh bagian ini, ada saatnya bagian itu–," ujarnya. "Maka kerukunan antara dua keluarga besar akan tetap terjaga, ada alasan untuk saling mengunjungi."

Pius menekankan pentingnya peran keluarga dan suku untuk tidak keluar dari patokan yang telah diletakkan leluhur. Belis seharusnya menjadi jembatan mempererat dua keluarga bertahun-tahun, bukan sebuah transaksi putus yang mematikan langkah ekonomi pasangan muda.

"Masih ada 100 hari yang akan datang, 100 malam yang akan datang," kata Pius menjelaskan. "Tidak bisa hari ini tunai, cash."

Dengan kembali ke esensi tahapan ini, Belis diharapkan tetap teguh sebagai identitas budaya Belu yang luhur. Tanpa harus menjadi momok menakutkan bagi mereka yang ingin membangun rumah tangga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....