Kartini yang Tidak Pernah Naik Panggung

  • 21 Apr 2026 15:05 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini dengan penuh semarak. Kebaya dikenakan, ucapan inspiratif dibagikan, dan sosok perempuan hebat kembali diangkat ke permukaan.

Namun, di balik perayaan itu, ada banyak perempuan yang tidak pernah benar-benar masuk dalam sorotan. Mereka tidak berdiri di panggung, tidak disebut dalam pidato, tetapi menjalani perjuangan yang tidak kalah besar.

Hanya saja, sering dianggap biasa. Dewi Oktavia adalah salah satunya.

Dulu, ia adalah seorang guru, sebuah profesi yang tidak hanya memberi penghasilan, tetapi juga makna. Kini, ia membantu suami berjualan sate setelah mengikuti perpindahan hidup keluarganya.

Ada rindu pada masa ketika ia mengajar dan dipanggil "Bu Guru", tetapi hidup menuntut pilihan yang harus dijalani. Perjuangannya tidak lagi berdiri di depan kelas, melainkan hadir dalam rutinitas panjang yang sering dianggap biasa.

Mulai dari menyiapkan bahan sejak pagi, bekerja hingga malam, tanpa jeda yang benar-benar terasa. Cerita serupa datang dari Metia Ariffiani, seorang lulusan cum laude dari salah satu kampus terbaik di Indonesia.

Dengan latar belakang akademik yang gemilang, ia memiliki banyak peluang untuk berkarier. Namun ia memilih jalan berbeda, menjadi ibu rumah tangga.

Baginya, peran ini bukanlah kemunduran, melainkan bentuk nyata dari emansipasi itu sendiri. "Peran seorang ibu rumah tangga itu adalah bentuk nyata dari emansipasi wanita," ujarnya.

"Ini adalah bentuk pengabdian, kegigihan, dan cinta saya pada keluarga," katanya. Meski menjalani kehidupan dengan baik, perasaan tarik-menarik tetap hadir bagi kedua wanita ini.

Di satu sisi ada keinginan kembali pada mimpi lama, di sisi lain ada tanggung jawab yang sedang dijalani. Rasa tidak cukup pun pernah muncul, terutama ketika membandingkan diri dengan standar yang sering muncul di media sosial.

Namun menurut Dewi dan Metia, pengalaman sebagai ibu, menghadirkan makna yang tidak bisa diukur dengan pencapaian semata. Mulai dari mengandung hingga merawat.

Dari dua cerita ini, terlihat satu benang merah. Bahwa ada begitu banyak bentuk perjuangan perempuan yang tidak pernah benar-benar dirayakan.

Standar "perempuan hebat" sering kali dibatasi pada pencapaian yang terlihat, seperti karier tinggi, prestasi besar, atau posisi penting. Sementara itu, mereka yang berjuang di ruang domestik atau di balik layar sering luput dari perhatian.

Padahal, jika ditarik kembali pada semangat R.A. Kartini, ia memperjuangkan kebebasan. Mulai dari kebebasan untuk belajar, berpikir, dan menentukan jalan hidup.

Dalam konteks hari ini, kebebasan itu juga berarti menghargai setiap pilihan perempuan. Termasuk mereka yang memilih untuk berjuang dalam ruang yang tidak selalu terlihat.

Mungkin sudah saatnya kita memperluas cara kita memaknai perayaan ini. Kartini tidak hanya hadir dalam sosok-sosok yang bersinar di depan, tetapi juga dalam perempuan-perempuan yang bekerja dalam diam.

Mereka yang mengorbankan, merawat, menjaga, dan tetap bertahan meski tanpa tepuk tangan. Karena pada akhirnya, tidak semua perjuangan harus terlihat untuk menjadi berarti.

Dan mungkin, justru di situlah Kartini yang sesungguhnya. "Hidup tapi tidak selalu dirayakan".

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....