Merawat Tradisi, Ritual Adat Pembuka Kegiatan RRI Fest
- 15 Sep 2025 20:02 WIB
- Atambua
KBRN, Atambua: RRI Fest Atambua 2025 di depan mata. Telah banyak persiapan yang dilakukan. Namun, ada yang unik dibalik hingar bingar rangkaian persiapan yang ada yakni ritual adat tolak bala.
Hampir di setiap kegiatan RRI Atambua, ritual adat tolak bala menjadi agenda wajib yang tidak terpisahkan. Ritual adat tolak bala menjadi simbol bentuk permohonan dan penghormatan terhadap leluhur dan penjaga alam sekitar. Ritual ini menjadi bagian penting dalam tradisi lokal sebagai wujud rasa syukur, penghormatan terhadap kearifan lokal, serta permohonan agar kegiatan berjalan lancar, aman, dan penuh berkah.
Dalam ritual yang dilaksanakan di Halaman Kantor LPP RRI Atambua pada Senin (15/09/2025) tersebut, para pelaksana melakukan beberapa hal, diantaranya:
1. Memohon izin kepada leluhur dan roh penjaga tanah adat tempat acara berlangsung.
2. Memanjatkan doa agar seluruh rangkaian kegiatan RRI Fest diberi kelancaran dan dijauhkan dari segala bentuk gangguan.
Ritual adat yang dipimpin oleh Tokoh Adat atau Sesepuh Adat, Hendrikus Meak didampingi Kepala LPP RRI Atambua, Suhendra, S.E., serta perwakilan Panitia RRI Fest ini bertujuan untuk memohon perlindungan dari bencana, malapetaka, atau penyakit. Dalam rangkaian tersebut terdapat sesajen berupa ayam jantan merah, logam bulat ukuran bola kecil warna kuning keemasan 3 buah, kasui/koe 4 buah, daun sirih dan buah pinang, serta beras dua genggam. Yang terpenting adalah ritual tolak bala ditutup dengan doa sebagai bentuk keseimbangan antara alam dan spiritual.
Ritual ini bukan hanya bentuk spiritualitas dan tradisi, tetapi juga menjadi momen sakral yang merekatkan nilai-nilai budaya, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap bumi Atambua. Melalui penghormatan ini, RRI Fest tidak hanya menjadi ajang hiburan atau pertunjukan budaya, tetapi juga ruang yang menghidupkan dan merawat kearifan lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....