Asal-Usul 9 Agustus, Relevansinya Bagi Masyarakat Adat.
- 10 Agt 2025 22:15 WIB
- Atambua
KBRN, Atambua : Perhelatan Hari Adat Sedunia yang diinisiasi oleh Forum Sejarah Budaya Timor (FSBT) bersama SMK Clarent Kefamenanu bukan sekadar perayaan, melainkan juga momentum untuk merefleksikan kembali makna di baliknya. "Banyak yang bertanya, alasan 9 Agustus ditetapkan sebagai hari penting bagi masyarakat adat dunia?," kata Kayetanus Abi, S.Pd, Ketua Umum FSBT, kepada rri.co.id, Minggu (10/08/25).
Penetapan berawal dari dimulainya sidang Kelompok Kerja PBB untuk Masyarakat Adat pada 9 Agustus 1982. Kelompok kerja ini bagian dari Sub-Komisi PBB untuk Promosi dan Perlindungan Hak Asasi Manusia.
Menurut Kayetanus Abi, Sidang tersebut menjadi wadah krusial bagi masyarakat adat dari berbagai penjuru dunia. “Tujuannya adalah untuk memberikan wadah bagi masyarakat adat global untuk menyuarakan aspirasi dan tantangan yang mereka hadapi,” katanya.
Lanjutnya, di forum inilah, mereka bisa menyampaikan langsung kepada dunia internasional, tentang isu-isu yang selama ini marjinalisasi keberadaan mereka. Ide untuk mengkhususkan satu hari peringatan kemudian disuarakan dan mendapat dukungan luas.
Pada akhirnya, gagasan ini diresmikan oleh Majelis Umum PBB melalui sebuah resolusi yang disebut 49/214 dan dikeluarkan pada 23 Desember 1994. Majelis Umum PBB secara resmi mendeklarasikan tanggal 9 Agustus sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia.
“Penetapan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan global terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang sering kali merugikan masyarakat adat, termasuk hilangnya tanah, bahasa, dan praktik budaya mereka.” tuturnya.
Setiap tahun, PBB mengusung tema-tema yang relevan dan krusial, mulai dari hak atas tanah, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga perlindungan lingkungan. Peringatan ini berfungsi sebagai platform strategis untuk meningkatkan kesadaran publik global.
Selain itu, momentum ini juga mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mengimplementasikan kebijakan yang lebih inklusif dan adil, yang mengakui keberadaan dan kontribusi masyarakat adat.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi kesempatan berharga untuk merefleksikan keberadaan ribuan komunitas adat yang tersebar di seluruh nusantara. Peringatan Hari Adat Sedunia yang digelar di Timor oleh FSBT dan SMK Clarent Kefamenanu.
“Hal ini sejalan dengan semangat PBB untuk menjamin hak-hak dan martabat masyarakat adat agar terus dihormati dan dilindungi. Dengan demikian, perayaan di Atambua ini bukan hanya euforia lokal, melainkan juga bagian dari gerakan global yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan budaya dan identitas yang beragam,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....